Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
|
| Foto: Pixabay.com |
Beberapa waktu yang lalu, anak saya mengungkit kembali, mengapa kami sekeluarga tidak pernah membuat baju seragam buat Lebaran. Saya hitung, sudah beberapa kali menjelang Lebaran dia selalau menanyakan hal itu.
"Ibu, kenapa kita nggak pernah membuat baju seragam buat Lebaran, seperti orang lain?".
Buat saya pribadi sebenarnya membuat baju seragam Lebaran itu tidak begitu penting. Selain itu ada ribetnya juga dan butuh waktu untuk merencanakan jauh-jauh hari. Karena saya harus sudah mempersiapkan sejak sebelum puasa. Pertama harus membeli kain terlebih dahulu, kemudian mencari penjahit yang bagus, mencari model yang cocok, dan terakhir menyiapkan ongkos. Ongkos di sini ada 2 jenis, yaitu ongkos membeli kain dan ongkos menjahit.
Mahal? Pasti iya buat saya. Belum lagi, setelah selesai Lebaran, kapan lagi baju ini akan kami pakai? Buat kondangan? Kami jarang sekali mendapat undangan kondangan. Mau buat Lebaran tahun depan? Yahh, nggak seru dong. Masak foto Lebaran tahun lalu dan tahun ini bajunya sama? Buat kerja? Enggaklah, modelnya saja lain.
Ehh, saya jadi ingat pengalaman yang menggemaskan sehubungan dengan baju. Saya dulu pernah berangkat kerja memakai baju atasan (tunik) yang modelnya seperti baju pengajian. Saya sudah lupa apa alasan saya memakai baju itu. Memang sih baju tersebut lebih sering saya pakai buat pengajian di komplek perumahan, namun kadang saya pakai juga untuk bepergian. Nah waktu itu saya naik bis. Mungkin mas kernetnya lagi iseng, sehingga waktu narik ongkos ke saya sempat-sempatnya bertanya,: "Bu, mau pengajian ya?". Padahal jelas-jelas saya mau kerja, karena pakai tas dan sepatu kerja. Hal itu cukup membuat saya kesal. Karena saat itu penumpang bis sangat sesak bahkan saya harus berdiri berhimpitan dengan penumpang lain. Dan akibat kalimat mas kernet tadi, penumpang lain yang awalnya tidak memperhatikan saya jadi melihat ke arah saya. Mas kernetnya benar-benar tahu cara merusak pagi saya saat itu. Dan ketika sampai di tempat kerja, saya ceritakan ke teman saya peristiwa tadi. Teman saya tertawa dan mengatakan bahwa baju itu memang lebih cocok buat pengajian. Saya jadi menyesal mengapa saya ceritakan hal tersebut, hehe.
Kembali ke baju seragam Lebaran. Jadi mengingat baju seragam Lebaran yang pemakaiannya hanya 'sak krempyengan' saja, terus terang saya jadi merasa eman-eman. Memang sih, memakai baju seragam Lebaran itu bagus buat kenang-kenangan, apalagi yang setiap Lebaran baju seragamnya berganti-ganti, pasti koleksi fotonya jadi bagus. Namun buat saya untuk sementara belum ada keinginan. Meskipun tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kami akan mempunyai baju seragam Lebaran, seperti keinginan anak saya selama ini. Atau bisa jadi Lebaran tahun ini? Dua bulan lagi kan sudah Lebaran ya. Mungkin kami harus memilih yang warna dan modelnya bisa dipakai ulang, misalnya bisa untuk pengajian atau siapa tahu tiba-tiba ada undangan kondangan, bisa buat bepergian juga dan keperluan lain. Wah, mengapa saya tiba-tiba jadi ingin membuat baju seragam Lebaran ya, hehe.
Tulisan ini adalah bagian dari kegiatan 1W1P Gandjel Rel, sesi 2 periode 7, dengan tema Baju Kembaran . Pengalaman saya selanjutnya dengan baju kembaran adalah ketika jamaah pengajian ibu-ibu komplek perumahan membuat baju seragam pengajian. Ini terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak awal kami sangat antusias atas rencana ini. Salah satu tujuan kami membuat baju seragam adalah supaya kami tampak rapi dan tidak terlihat kesenjangan dalam berbusana atau supaya terlihat sama rata. Baju ini nantinya harus kami pakai ketika ada acara pengajian bulanan. Dan alhamdulillah, beberapa minggu kemudian rencana ini terlaksana. Kami membeli kain berwarna putih gading (atau putih apa ya, saya lupa), dengan hiasan bordir bunga dibagian depan, kemudian kami jahitkan sendiri-sendiri. Modelnya gamis biasa saja.
Coba tebak, selanjutnya berapa kali kami menaati memakai baju seragam ini ketika acara pengajian? Hanya beberapa kali. Awalnya hanya satu dan dua orang saja yang tidak memakai baju seragam. Lama-kelamaan hanya separuh ibu-ibu jamaah yang memakai, selebihnya tidak. Dan akhirnya tidak ada yang memakai sama sekali, hanya kadang-kadang ada yang memakai satu atau dua orang saja. Saya termasuk yang sering memakai meskipun tidak rutin. Akhirnya saya benar-benar tidak pernah memakainya lagi, bukan karena tidak mau namun karena sudah tidak muat, hehe.
Pengalaman berkesan lain tentang baju kembaran, adalah ketika saya masih kecil, mungkin seumuran TK. Saat itu ada salah satu bulik saya yang akan menikah, jadi keluarga kami mau kondangan kan. Saat itu bulik saya yang lain (kakak dari bulik yang akan menikah ini), membelikan baju baru buat saya untuk dipakai di pernikahan tersebut. Sebenarnya bulik saya ini pandai menjahit, namun mungkin karena sudah tidak ada waktu untuk membuatkan baju, sehingga bulik saya membelikan baju buat saya. Istimewanya, baju ini kembaran dengan anak bulik saya tadi, hanya warnanya berbeda. Punya saya oranye dan anak bulik saya kuning. Saya dan anak bulik saya memang seumuran bahkan kami satu kelas.
Baju itu bagus sekali, mirip baju Cinderela. Terbuat dari kain halus bertumpuk dua, ada banyak renda, ada pita juga dan panjangnya hampir menyentuh mata kaki. Saya suka sekali. Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya memakai baju kembar bersama sepupu saya. Sebenarnya ada foto kenangan ketika saya dan saudara sepupu memakai baju ini, tetapi saya cari tidak ketemu. Semoga tidak hilang karena itu salah satu foto yang saya suka.
Menurut saya baju kembaran ada bagusnya asal jelas konsepnya. Misalnya, baju kembar sarimbit yang biasanya dipakai kondangan suami istri, baju kembaran Lebaran untuk satu keluarga, baju perkumpulan atau kegiatan apalah, bisa juga baju (kaos) reuni, baju piknik dan lain-lain. Namun sepertinya ada semacam kebiasaan bahwa baju-baju kembaran ini usianya tidak lama. Biasanya hanya dipakai satu kali saat ada acara tertentu, setelah itu jarang dipakai lagi. Terutama untuk acara seperti reuni, piknik atau acara pertemuan lain. Bisa jadi karena tidak ada acara yang sama dalam waktu dekat, kalaupun akan mengadakan acara lagi pasti akan membuat baju seragam baru lagi. Akhirnya baju-baju tadi hanya bisa disimpan sebagai kenang-kenangan. Tertata rapi di almari, bahkan sudah seperti koleksi baju seragam segala kegiatan, hehe.
Kalau saya lebih menekankan kepada fungsinya ya. Mungkin yang kembar sarimbit atau kembar Lebaran masih bisa dipakai untuk kegiatan lain, asal tidak jauh dari konsep acara. Sementara untuk yang kaos-kaos juga masih bisa kita pakai untuk keseharian di rumah.
Bagaimana dengan baju kembaran dadakan? Semoga peristiwa ini tidak akan pernah terjadi ya, saya hanya membayangkan saja. sih. Apa yang harus kita lakukan jika pada suatu acara, tiba-tiba ada orang yang memakai baju persis plek seperti baju yang kita pakai? Terkejut, pastilah ya. Selanjutnya, bagaimana? Sementara orang itu tidak kita kenal. Pasti jadi aneh gitu kan ya. Apalagi jika orang-orang di sekitar kita jadi memperhatikan. Kalau saya, jika memungkinkan akan segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun jika tidak memungkinkan, lebih baik menjauh dari orang tersebut, dan mencari kesempatan untuk kabur dari sana. Hehe, tetap saja ingin menghindar yaa.
Jadi, apakah saya termasuk orang yang bisa menerima konsep baju kembaran? Kembaran sama siapa dulu, nih. Kalau dengan keluarga, tetangga, teman, masih oke. Namun tidak, jika kembaran dengan orang asing secara tiba-tiba, haha.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment