Friday, February 3, 2023

Hal Acak Tentang Angkringan

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Angkringan. Bukankah kata ini sangat Njawani? Karena kata angkringan memang berasal dari bahasa Jawa. Angkringan artinya alat/tempat berjualan makanan keliling. Pasti teman-teman yang berasal dari Jawa atau bertempat tinggal di Jawa sudah tahu ya, apa itu angkringan. Karena nama ini sudah sangat populer sebagai tempat berjualan makanan dan minuman dengan harga murah.

Angkringan berupa sebuah gerobak dorong yang berisi berbagai macam makanan, mulai dari nasi kucing, bermacam gorengan, berbagai jenis sate, dan beberapa macam minuman tradisional. Harganya bervariasi, mulai dari yang murah dan terjangkau sampai yang mahal. Saat ini angkringan banyak kita temui disepanjang jalan, termasuk di jalan perkampungan atau perumahan ada juga penjual angkringan.

Ternyata sejarah angkringan ini sangat panjang, karena sudah ada sejak tahun 1930-an. Namun pada awalnya dulu masih menggunakan gerobak pikulan. Gerobak pikulan adalah gerobak yang dibagian kanan dan kirinya terdapat gerobak kecil yang bagian atasnya diberi sebuah pikulan dari kayu. Biasanya yang menggunakan pikulan ini bapak-bapak atau seorang laki-laki karena membutuhkan tenaga lebih kuat.

Saya jadi ingat ketika kecil dulu, banyak orang membawa sesuatu menggunakan alat pikulan ini. Entah mengapa yang paling nempel di kepala saya, adalah bapak mindring , haha. Jika ada yang belum tahu, bapak tukang mindring ini adalah penjual alat-alat rumah tangga dari jenis A sampai Z yang dibawa menggunakan keranjang pikulan. Keranjangnya sangat besar sehingga bisa memuat banyak barang dagangan. Biasanya transaksi penjualan ini secara kredit. Yang menarik cara membayar cicilan ini menggunakan sistem harian. Jadi setiap hari bapak mindring ini berkeliling ke rumah-rumah warga untuk menagih. Ada cerita lucu, dulu saya sering diberi pesan oleh ibu bahwa kalau ada bapak mindring datang disuruh bilang kalau ibu tidak ada, padahal ibu saya berada di dalam rumah alias sembunyi karena saat itu tidak punya uang buat membayar cicilan. Ya Allah, mengapa saya jadi cerita ini yaa?

Bahkan sampai sekarangpun saya masih menemui orang berjualan menggunakan pikulan. Misalnya penjual ikan hias yang kecil-kecil itu dan penjual tape singkong.

Kembali ke angkringan. Dulu angkringan ini biasanya keluar pada malam hari, disaat orang-orang beristirahat di rumah. Selain makanan, angkringan juga menjual minuman tradisonal, misalnya wedang jahe.

Bagaimana angkringan saat ini? Seiring berjalannya waktu dan menyesuaikan dengan situasi kondisi sekarang, angkringan tidak lagi menggunakan pikulan. Ada yang mengganti pikulan menjadi gerobak dorong, dan menetap disuatu tempat jadi lebih praktis dan tidak memberatkan penjual. Saya sering menemui angkringan berupa warung tenda dengan beberapa kursi di depan gerobak. Ada juga yang hanya gerobak saja tanpa tenda dan tanpa kursi. Dan ada juga yang sudah menempati sebuah ruangan dengan bangunan permanen.

Saat ini, dimana kita berada di era after covid, a ngkringan semakin mudah kita temukan. Saya rasa peluang berjualan angkringan menjadi salah satu alternatif bagi sebagian orang untuk menambah pendapatan. Apalagi situasi sekarang dimana segala kegiatan sudah mulai normal, sehingga kegiatan ekonomi (daya beli) masyarakat juga mulai membaik. Hal ini berimbas juga terhadap para pedagang termasuk penjual angkringan.

Saya pernah secara selintas  memperhatikan, sepanjang rute perjalanan berangkat dan pulang kerja, ada beberapa tempat angkringan baru.

Bahkan di daerah saya ada rumah makan yang  melabeli usahanya dengan nama 'cafe angkringan', tentu saja dengan tempat yang lebih luas, bangunan permanen dan bagus, dengan kapasitas tempat duduk lebih banyak. Layaknya rumah makan lain. Entahlah apakah di sini menyediakan nasi kucing atau tidak.

Kadang saya berpikir, apakah nama angkringan ini sedemikian populer sehingga banyak penjual makanan yang tidak segan menggunakan nama 'angkringan' meskipun konsepnya agak jauh dari konsep asli angkringan itu sendiri?

Misalnya di dekat tempat kerja saya, ada semacam tempat makan yang terletak di teras rumah, dengan menggunakan nama angkringan, namun tidak menjual nasi kucing khasnya angkringan, melainkan menjual gado-gado dan aneka masakan rumah lainnya. Menurut saya sih, angkringan itu sangat identik dengan nasi kucing. Ibaratnya nasi kucing itu adalah maskotnya angkringan. Mungkinkah angkringan tanpa nasi kucing ini yang dinamakan angkringan modern atau angkringan gaya baru? Entahlah.

Atau mungkin penjual berpikir bahwa nama angkringan ini mengesankan harga yang murah dan bersahabat, sehingga akan sangat efektif untuk menarik pembeli masuk ke warung? Bisa jadi. Bukankah ini salah satu strategi marketing yang ampuh? Hehe, cerdas juga penjualnya ya.

Jika jaman dahulu angkringan hanya beroperasi di malam hari, maka saat ini tidak lagi. Angkringan bisa dimulai saat sore, atau siang, atau terserah penjual mau buka jam berapa. Bahkan cafe angkringan yang saya sebutkan di atas sudah buka mulai jam 11.00.

Jenis-jenis makanan dan minuman yang dijualpun sudah bertambah macamnya. Selain makanan khas nasi kucing, berbagai gorengan, bermacam varian sate, bisa bertambah juga gado-gado dan masakan rumah lainnya.

Para pembeli angkringanpun segmennya sudah sangat luas. Mulai dari seseorang dengan uang pas-pasan yang hanya bisa makan seporsi nasi kucing dan teh manis, sampai seseorang yang bisa makan beberapa porsi nasi kucing tambah beberapa gorengan tambah beberapa sate tambah minum wedang jahe hangat, dan masih membungkus beberapa sate buat dibawa pulang.

Dari seseorang yang hanya berjalan kaki, naik motor sampai naik mobilpun, pernah parkir sebentar untuk menikmati makanan khas angkringan ini.

Bisa disimpulkan bahwa harga makanan di angkringan bisa cocok untuk semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, pekerja biasa maupun pejabat, hehe.

Angkringan juga bisa berfungsi sebagai ajang nongkrong dan ngobrol-ngobrol. Tidak jarang pengunjung datang secara berkelompok, kemudian memesan beberapa porsi makanan dan minuman, kemudian ngobrol santai kayak di pantai, hehe.

Jujur, saya sendiri dari kecil sampai saat ini belum pernah mampir di angkringan. Bukan apa-apa, mungkin belum ada kesempatan saja atau karena belum terlalu kepo . Selama ini saya banyak mendengar tentang angkringan dari teman kerja yang kadang bercerita mengenai pengalaman makan di angkringan. Atau paling melihat sekilas ketika saya sedang dalam perjalanan.

Teman saya pernah bercerita, katanya dia tidak bisa hanya makan satu porsi nasi kucing karena tidak mengenyangkan, setidaknya harus dua atau tiga porsi. Pilihan lawuhnya juga sangat menggiurkan. Jika uang lagi pas-pasan paling hanya nambah gorengan satu atau dua buah. Namun kalau lagi kaya, selain dua buah gorengan masih bisa nambah dua tusuk sate juga, hehe. Sangat fleksibel kan ya, tergantung kondisi dompet masing-masing.

Intinya angkringan itu harus identik dengan harga yang murah, meskipun ada juga harga yang mahal. Harus ada nasi bungkus atau nasi kucing, meskipun ada jenis masakan lain. Ada minuman khas atau minuman tradisional, meskipun ada jenis minuman lain yang kekinian. Ada gorengan dan sesatean yang khas, meskipun ada juga jenis jajanan lain yang lagi ngetren.

Hhmmm, setelah ngomongin angkringan saya jadi pengen icip satenya nih. Saya sempat buka-buka gambar aneka menu yang biasa dijual di angkringan, dan jadi ingin beli beberapa aneka sate, hehe. Semoga suatu hari, entah besok atau kapan saya punya kesempatan mampir di angkringan.

Terima kasih Komunitas Gandjel Rel yang telah memberi tema 'Angkringan' di kegiatan 1W1P sesion 2 periode 4 kali ini.

Wassalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...