Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
|
| Foto: Pixabay.com |
Mengapa saya sering kesulitan berbicara ketika berada di depan umum, meskipun itu hanya sebatas di pertemuan Dawis yang artinya berhadapan denga tetangga sendiri? Bisa jadi karena kurang latihan ya, hehe.
Sebaliknya saya lebih suka menuliskan apa yang ingin saya bicarakan melalui pesan. Misalnya, saya lebih suka menuliskan pendapat saya melalui pesan WA daripada menyampaikan langsung saat pertemuan. Meskipun tidak menghindar juga jika harus mengatakan secara langsung.
Ini saja dalam lingkup tetangga dekat ya. Nah, bagaimana jika dalam lingkup yang lebih luas, misalnya di pertemua PKK, atau forum lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya hanya gemetar dan keluar keringat dingin, tanpa bicara apa-apa, hehe.
Apa karena saya termasuk tipikal introvert alias pendiam? Benarkah bahwa orang-orang dengan tipikal introvert selalu kesulitan berbicara di depan orang banyak? Hhmm, kok sepertinya malah menyalahkan sifat introvert ya.
Menurut saya sih, tidak ada hubungan secara langsung antara kesulitan berbicara di depan umum dengan tipikal introvert ini. Mungkin orang introvert seperti saya merasa tidak nyaman berbicara di depan umum, namun bukan berarti tidak bisa. Ada banyak orang introvert yang pandai berbicara di depan umum, bahkan lebih ulung daripada orang ekstrovert.
Dan menurut saya, tidak bisa berbicara di depan umum ini bukan merupakan sifat bawaan, bukan pengaruh MBTI, bukan pengaruh weton atau pengaruh-pengaruh lain. Melainkan adalah kemauan dan latihan, termasuk jam terbang.
Saya sendiri jarang sekali berbicara di depan umum, meskipun itu hanya sebatas pertemuan Dawis atau arisan PKK. Kecuali terpaksa. Sehingga saya sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam berbicara di depam umum, baik secara teknik maupun teori. Pernah sih membaca mengenai cara-cara atau panduan berbicara di depan umum, namun jarang ada kesempatan praktik sehingga jarang digunakan. Dan sekalinya ada kesempatan, sudah lupa semua teorinya, hehe.
Namun pernah juga saya berbicara di depan arisan PKK sebagai pembawa acara karena kebetulan saya adalah sekretaris RT. Meskipun hanya beberapa kali pertemuan saja karena keburu dihadang covid yang menyebabkan seluruh acara tatap muka tidak diperkenankan. Setelah covidnya selesai, selesai juga periode kepengurusan saya, hehe.
Dari beberapa kali kesempatan berbicara sebagai pembawa acara pertemuan PKK tersebut, ada beberapa hal yang saya alami dan sekaligus saya pelajari, antara lain:
1. Harus ada persiapan, paling tidak menghafal urut-urutan acara, meskipun saya tetap membawa catatan. Kemudian menghafal juga kalimat pembukaan dan kalimat penutup di akhir acara. Saya tidak begitu suka jika terlalu terpaku pada catatan atau selalu membaca, karena menurut saya, itu artinya kurang persiapan.
2. Harus kontak mata dengan peserta lain dan tersenyum. Saya berusaha untuk berbicara dengan menatap ibu-ibu peserta pertemuan, meskipun reaksinya berbeda-beda. Ada yang antusias, ada yang datar atau biasa-biasa saja tanpa ekspresi, dan ada juga yang menghindari kontak mata dan melihat ke arah lain. Apalagi jika sebagian besar tanggapannya memalingkan pandangan ke arah lain, saya langsung keringatan. Wah, ada yang salah ini, hehe.
3. Harus berbicara lebih keras supaya semua peserta mendengar dan mendapatkan perhatian. Jika suara saya tidak terdengar maka reaksi ibu-ibu adalah berisik dan bicara sendiri-sendiri. Itu sangat menyesakkan tentu saja ya, seolah saya bicara sendiri dan tidak ada yang memperhatikan. Maka saya selalu berusaha berbicara lebih keras supaya mendapat perhatian.
4. Melakukan improvisasi. Maksudnya saya tidak boleh hanya terpaku pada susunan acara begitu saja, namun harus memberikan kalimat-kalimat lain yang sekiranya bisa memancing reaksi ibu-ibu, meskipun itu hanya bersifat bercanda. Misalnya dengan menanyakan, apakah sudah mandi, sudah makan, keluarga sehat-sehat dan kalimat-kalimat lain yang ringan namun bisa mendapat tanggapan.
5. Menambah jam terbang. Awalnya saya berbicara dengan kebingungan meskipun di rumah sudah berlatih kira-kira apa yang akan saya sampaikan. Kenyataannya, suara saya terbata-bata, bergetar dan banyak jeda. Ditambah masih mikir lama, sehingga yang terdengar adalah: " ... ngg ... ngg ... nganu ... ". Sering juga terjadi pengulangan kata-kata yang sama, sehingga membosankan. Misalnya kata 'dan', kata 'jadi' saya ulang terus menerus. Namun semakin sering saya berbicara atau menambah jam terbang, akan semakin lancar.
Pengalaman seperti hal-hal tersebut di atas secara tidak langsung juga menyadarkan saya bahwa berbicara di depan orang banyak itu tidak mudah, dan kita juga harus menghargai orang yang sedang berbicara. Terhadap orang lain yang berbicara, maka saya harus memberikan reaksi yang positif sehingga membuat orang tersebut nyaman. Jangan memalingkan muka, namun berikan reaksi yang baik, misalnya dengan membalas tersenyum atau menggangguk.
Lain lagi dengan bahasa tulisan ya. Misalnya ketika saya memberikan pendapat di grup WA ibu-ibu, maka saya lebih merasa nyaman dan lepas. Mungkin karena saya tidak melihat ekspresi pembaca secara langsung, jadi tidak terlalu terbebani.
Bagi saya menyampaikan pesan melalui tulisan atau berbicara langsung di depan umum, itu tergantung kepentingan masing-masing. Selama ini saya lebih sering menyampaikan pesan lewat tulisan khususnya di grup WA ibu-ibu, karena memang ada masalah yang cukup hanya disampaikan lewat pesan WA. Apalagi khususnya saya yang bekerja, tidak bisa sering bertemu langsung. Namun jika dirasa ada yang harus disampaikan lewat pertemuan tatap muka, ya tidak masalah juga.
Meskipun jika harus memilih, saya lebih memilih menulis pesan daripada berbicara langsung. Alasannya, masih belum lancar, masih banyak mikir dan kalimatnya putus-putus, dan tidak percaya diri. Tetapi saya tetap mempunyai keinginan bisa berbicara di depan umum dengan berani dan penuh percaya diri. Mungkin saya masih harus banyak belajar dan terus berlatih ya, hehe.
Selamat Ulang Tahun ke-8 kepada Komunitas Gandjel Rel , tepatnya pada tanggal 22 Februari 2023 nanti. Semoga semakin maju dan menginspirasi, khususnya bagi saya pribadi. Dan terima kasih atas tema ulang tahun kali ini mengenai 'Menulis VS Bicara di Depan Umum.
Sayangnya saya tidak mempunyai pengalaman khusus tentang berbicara di depan umum, jadi tulisan ini hanya sebatas pengalaman saya sehari-hari. Met ultah, Gres. ILY.
Wassalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment