Friday, February 17, 2023

Hal-hal yang Saya Harus Meminta Maaf tanpa Melakukan Kesalahan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Foto: Pixabay.com

Normalnya orang meminta maaf karena dia menyadari telah berbuat kesalahan. Jika ada orang yang telah berbuat salah tetapi tidak meminta maaf, itu ada dua kemungkinan. Pertama, dia tidak menyadari kalau telah berbuat salah, atau menyadari kesalahannya namun gengsi, malu, atau takut mau minta maaf, entah apa alasannya.

Namun ada kejadian agak-agak ganjil yang selama ini saya alami, sehubungan dengan permintaan maaf ini. Awalnya saya anggap ini hal aneh, namun lama-kelamaan ini menjadi hal biasa. Karena bukan hanya saya yang melakukan melainkan sudah jamak dilakukan orang lain juga.

Hal yang saya maksud adalah, ketika saya sudah pasti tidak melakukan kesalahan akan tetapi saya harus meminta maaf.  Aneh bukan? Sementara ada orang yang jelas-jelas berbuat salah namun bisa menolak minta maaf, namun ada beberapa hal yang saya jelas tidak berbuat salah tapi harus meminta maaf. Lebih anehnya lagi, saya tidak boleh menolak. Saya harus melakukannya, demi kebaikan, demi kesopanan, demi keramahan, demi tidak menyakiti hati orang. Intinya demi perdamaian dunia. Karena jika saya bersikeras menolaknya, bisa-bisa akan terjadi perang gerilya, haha.


Hal-hal yang saya harus meminta maaf tanpa melakukan kesalahan


1. Penagihan hutang ke customer

Ini hal yang paling tidak saya sukai. Dimana saya harus mengingatkan customer ketika hutang mereka sudah jatuh tempo, kemudian mulai melakukan penagihan ketika peringatan pertama tidak digubris. Bagian yang paling saya benci adalah ketika saya harus menggunakan kata maaf.

"Mohon maaf, Ibu. Minta tolong tagihannya bisa segera ditransfer ya, karena sudah lewat jatuh tempo. Seharusnya sudah dibayar minggu lalu. Terima kasih".

Terlalu berlebihan nggak, sih? Kata-kata mohon maaf, minta tolong, terima kasih. Namun saya harus melakukan itu sebagai prosedur standard perusahaan. Demi kesopanan dan bersikap baik. Dan jika saya menolak, benar-benar akan terjadi perang antara saya dan pimpinan, hehe.


2. Menanyakan kiriman ke ekspedisi

Kadang kiriman barang dari kantor pusat melalui ekspedisi tidak tepat waktu, sementara barang sudah dirunggu customer. Biasanya waktu pengiriman hanya satu hari satu malam, namun kadangkala ada keterlambatan. Jelas ini bukan kesalahan dari pihak penerima ya, kalaupun mau dirunut kesalahan ya pastinya ini keterlambatan dari pihak ekspedisi.

Tidak hanya satu atau dua kali saya harus menanyakan ke ekspedisi apakah barang kiriman sudah sampai atau belum. Sampai-sampai saya harus meminta maaf karena terlalu sering bertanya.

"Mbak, apakah kiriman dari Jakarta sudah sampai? Karena barangnya sudah ditunggu pembeli".

"Tunggu saja ya, Bu. Nanti kalau sudah sampai pasti dikirim ke tempat Ibu".

"Mohon maaf ya Mbak, saya bertanya lagi. Gimana kirimannya, sekarang sudah sampai belum? Kok lama sekali ya, biasanya pagi sudah sampai".

Segemes-gemesnya saya terhadap jawaban Mbak tadi, namun saya harus tetap menyertakan kata minta maaf demi mendapat kesan yang baik dan sopan, dan tentu saja demi keberlangsungan hubungan baik dengan pihak ekspedisi. Jika hubungan kami selalau baik, maka terciptalah kedamaian dunia.


3. Menolak penawaran suatu produk

Pasti teman-teman sering mengalami hal ini, seperti yang saya pernah alami. Ketika sedang berada di suatu tempat, misalnya di pusat perbelanjaan, atau sedang jalan-jalan di suatu tempat, tidak jarang kita temui penjual yang menawarkan bermacam-macam produk. Bisa berupa makanan, barang, jasa atau kredit.

Jika saya kebetulan sedang membutuhkan barang tersebut, saya dengan senang hati akan membeli. Namun jika saya tidak membutuhkan tentu saja saya menolak dengan halus.

"Tidak dulu, terima kasih".

Namun ada kalanya Si Penjual memaksa. Misalnya saya sedang berada di sebuah bank, terus ada penjual yang menawarkan salah satu produk perbankan. Karena saya tidak membutuhkan produk tersebut maka saya menolak dengan kata-kata yang menurut saya sopan. Akan tetapi penjual tadi terus mendesak saya dengan iming-iming promo yang menarik dan kata-kata manis supaya saya tertarik. Saya paham sih, semua itu adalah suatu usaha dan cara pemasaran supaya produknya terjual. Tapi bukankah saya sudah menolak ya? Apakah sikap saya kurang jelas? Saya kesal iya, sedikit. Namun saya tidak boleh marah dong. Akhirnya saya jawab dengan kalimat pamungkas yang lebih tegas.

"Mohon maaf ya, Mbak. Kalau saya tidak membutuhkan produk ini masak harus beli, terus buat apa?".

Kata mohon maaf sengaja saya selipkan supaya penjual tadi tidak sakit hati, mengingat kalimat selanjutnya agak menghunjam, hehe. Kejadian ini tentu saja bukan kesalahan saya, namun justru saya yang meminta maaf karena terpaksa harus menjawab dengan kalimat yang tegas, supaya jelas. Kata mohon maaf ini demi menjaga hati seseorang yang sedang berjuang dalam pekerjaan.


4. Menolak ajakan seseorang

Hal ini juga pasti sering terjadi dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita berada di posisi mengajak seseorang, namun kemudian  dia meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan kita. Dan ada kalanya kita diajak seseorang, tetapi kemudian kita yang meminta maaf karena sedang ada acara lain yang lebih penting. Eh, ini bukan semacam balas dendam kan yaa, hehe.

Situasi seperti ini tentu saja bukan kesalahan siapa-siapa ya. Permintaan maaf ini bisa diartikan sebagai bentuk penyesalan karena kita tidak bisa memenuhi permintaan seseorang tadi. Biasanya akan ada embel-embel kalimat: Semoga lain kali ada waktu buat kita jalan bareng, atau kalimat lain yang bermakna sama.


5. Menanyakan sesuatu kepada orang asing

Orang asing disini artinya orang yang belum kita kenal sama sekali atau orang yang belum begitu akrab dengan kita, sehingga kita harus bersikap sopan.

Biasanya hal ini terjadi ketika kita membutuhkan informasi tentang suatu hal yang kita belum tahu. Misalnya ketika kita pergi ke tempat yang baru atau tempat yang belum pernah kita kunjungi. Meskipun kita sudah menggunakan layanan map di ponsel, bukan tidak mungkin kita masih kebingungan.  Nah, salah satu solusi adalah bertanya kepada orang yang kita temui di sekitar tempat tersebut.

"Mohon maaf Bapak, mengganggu sebentar. Boleh saya bertanya? Rumahnya Ibu Anggun, blok P No.17, yang mana ya?"

Akan sangat tidak sopan jika kita bertanya atau meminta bantuan kepada orang asing tanpa kata maaf, kan ya.

"Bapak, tanya dong. Rumahnya Bu Anggun, di sebelah mana ya?" Rasanya kok jadi sok akrab ya, padahal baru pertama bertemu, hehe.

Dalam kasus ini, memang tidak bersalah ketika bertanya kepada seseorang. Namun alangkah baiknya jika kita bertanya dengan sikap yang sopan, salah satunya dengan menyertakan kata mohon maaf. Jadi arti kata mohon maaf di sini bukan berarti kita melakukan kesalahan, namun lebih menunjukkan kesopanan, keramahan dan menghargai orang yang membantu kita.

Bagaimana menurut teman-teman, apakah kalian pernah juga mengalami kejadian harus mengucapkan kata maaf padahal tidak berbuat salah? Permintaan maaf yang harus kita ucapkan demi menjaga kesopanan, kebaikan, keramahan, menjaga hati seseorang, dan demi 'perdamaian dunia'. Mengapa tidak? Meminta maaf ternyata bukan melulu karena telah berbuat kesalahan, melainkan untuk menjaga harga diri dan kehormatan kita juga, hehe.

Tema minta maaf dalam tulisan 1W1P Gandjel Rel sesi 2 periode 6 ini bagi saya sangat menarik, Karena saya punya kesempatan untuk menceritakan kejadian keseharian saya, sehingga ada muatan curhat tipis-tipis gitu, hehe.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...