Friday, January 20, 2023

Sosok Inspiratif yang Memengaruhi Hidup Saya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Siapa sosok yang menginspirasi saya? Banyak. Salah satu alasan saya suka atau mengagumi seseorang biasanya karena saya terkesan dengan apa yang orang tersebut lakukan, sementara saya belum bisa melakukannya dan ingin bisa melakukan seperti yang orang tersebut lakukan. Hehe, panjang yaa. Namun tentu saja, semua itu dalam koridor hal yang baik atau positif, bukan hal yang buruk apalagi merugikan orang lain.

Salah satu yang ingin saya ceritakan saat ini, adalah sosok yang menginspirasi saya sejak dulu, bahkan sampai detik ini. Bagaimana saya selalu ingin me- copy-paste semua hal baik yang beliau lakukan, dan mengaplikasikan dengan cara dan gaya saya sendiri.

Sejarah hubungan kamipun sangat panjang. Saya bertemu dengan seseorang yang saya panggil Mbak Ratna ini, ketika pertama kali diterima bekerja di sebuah perusahaan. Saya ingat betul saat itu tanggal 1 Oktober 1991, dan usia saya 19 tahun lebih 2 bulan. Selisih usia kami adalah 6 tahun. Kami menjadi satu team di bagian pemasaran, hanya beda bagian. Saya dibagian membuat surat jalan barang yang akan keluar, sementara Mbak Ratna dibagian membuat faktur dan penagihan.

Sejak awal beliau sudah banyak membantu saya. Apalagi saat itu saya belum punya pengalaman kerja sama sekali, sementara beban pekerjaan sudah sangat banyak. Saya harus belajar cepat untuk menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaan yang sangat membingungkan. Belum lagi saya sudah harus berhadapan dengan komputer, yang saat itu saya masih awam sekali.

Ditambah lagi kepala bagian saya sangat galak, hahaha. Bu kabag ini maunya semuanya serba cepat, sementara saya masih grothal-grathul. Disaat-saat itulah Mbak Ratna selalu membantu saya. Termasuk ketika di depan komputer, beliau juga sangat banyak membantu. Mengajari saya dengan sabar. Bahkan ketika saya sudah bisa mengerjakan sesuatu dengan baik, beliau tidak segan-segan memuji saya, yang membuat saya lebih bersemangat dan melupakan kegalakkan Bu kabag, hehe.

Di luar masalah pekerjaan Mbak Ratna juga selalu memberi nasehat kepada saya. Bagaimana saya harus bertingkah-laku di kantor, memberi tahu sifat teman-teman dari bagian lain supaya bisa bertindak dengan benar dan hati-hati, dan lain-lain.

Beliau juga yang mengajarkan supaya saya menabungkan sebagian dari gaji saya. Kemudian mengantarkan saya ke bank untuk membuka tabungan, karena saya belum pernah ke bank sebelumnya. Begitulah, selain sebagai rekan kerja, beliau juga menjadi guru sekaligus pelindung saya.

Namun pada pertengahan tahun 1994 Mbak Ratna resign karena mendapatkan pekerjaan lain. Kemudian pada akhir Desember 1994, saya juga resign karena suatu alasan. Sejak itu komunikasi kami hampir terputus sama sekali, salah satu sebabnya saat itu ponsel belum mendominasi seperti sekarang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah mempunyai ponsel, sedangkan saya belum punya, sehingga kami tidak bisa bertukar nomor. Komunikasi hanya kami lakukan sesekali untuk berkabar hal penting, misalnya tentang pernikahan beliau dan pernikahan saya, atau hal penting lainnya.

Setelah itu saya sempat berganti pekerjaan 2 kali, kemudian saya bekerja di sebuah CV type C milik om saya. Pada tahun 1998 saat krisis moneter perusahaan-perusahaan kecil banyak yang terkena imbas, termasuk perusahaan milik om saya. Namun saya masih bekerja dengan order yang pas-pasan. Mungkin om saya tidak tega kalau mau memberhentikan saya, hehe.

Kemudian pertengahan tahun 2001, tiba-tiba Mbak Ratna menelpon saya lewat telpon kantor. Tanpa basa-basi langsung bertanya, apakah saya bersedia bekerja di tempat beliau bekerja saat ini. Saya langsung mengiyakan, karena kondisi di perusahaan om saya masih belum bisa bangkit sepenuhnya.

Akhir Juni 2001 saya memenuhi panggilan di tempat kerja Mbak Ratna, mau test dan wawancara kerja. Saat itu ada 3 orang pelamar (salah satunya sepupu Mbak Ratna). Kemudian kami ditest dan diwawancara oleh HRD kantor pusat (Jakarta). Keesokan harinya Mbak Ratna menghubungi saya dan bertanya bagaimana test dan wawancara kemarin. Saya jawab, testnya sulit banget dan saya asal-asalan menjawab. Kata Mbak Ratna, semua peserta test hasilnya sama, banyak salahnya. Namun Mbak Ratna merekomendasikan saya untuk diterima. Tentu saya saya senang sekaligus terkejut. Senang karena diterima kerja dan terkejut karena Mbak Ratna ternyata memilih saya, bukan sepupunya, hehe.

Tanggal 1 Juli 2001, saya mulai masuk kerja di tempat kerja yang baru, kembali menjadi rekan kerja Mbak Ratna. Kata Mbak Ratna, karena saya karyawan baru jadi tidak boleh hamil dulu selama 1 tahun. Saya setuju saja, karena saat itu saya belum terlalu siap untuk hamil kembali, setelah anak pertama saya meninggal dalam usia 2 hari pada bulan Januari 2001.

Namun takdir berkata lain, satu bulan kemudian saya berhenti haid dan mulai merasa ada tanda-tanda kehamilan. Ternyata saya benar hamil. Artinya itu kehamilan yang tidak saya sengaja, atau belum saya rencanakan. Mengingat kehamilan pertama saya sangat sulit, membutuhkan waktu lama dan harus berobat terus-menerus. Namun alhamdulillah, kehamilan yang kedua ini sangat mudah, bahkan saya belum sempat ke dokter lagi setelah kematian anak saya. Saya masih merasa syok dan bermaksud istirahat dulu sebelum merencanakan hamil kembali. Dan Allah berkehendak lain.

Antara bahagia dan sedih. Saya langsung berterus terang kepada Mbak Ratna. Beliau sempat terkejut, namun kemudian berkata tidak apa-apa, diam saja selama 'orang Jakarta' tidak ada yang tahu, pasti aman. Lalu bagaimana dengan sikap teman-teman lain di kantor? Hanya ada 2 bagian admin wanita (saya dan Mbak Ratna), kepala cabang, beberapa sales (laki-laki semua), sopir dan ART. Karena Mbak Ratna adalah karyawan senior dan berpengaruh serta mempunyai argumen yang baik, maka teman-teman di kantor bisa memahami situasi saya. Alhamdulillah.

Namun sepandai-pandai kita menyembunyikan ketidakjujuran, akhirnya terbuka juga. Ketika kehamilan saya memasuki bulan ke empat, ketika bangun tidur, tiba-tiba saya pendarahan. Saya harus dirujuk ke rumah sakit dan bed rest selama 2 minggu. Saya opname di rumah sakit sekitar 5 hari (kalau tidak salah ingat), selebihnya harus istirahat di rumah. Ini detil cerita tentang kehamilan saya yang kedua.

Mbak Ratna tidak keberatan membantu mengerjakan semua pekerjaan saya. Namun hal yang tadinya ingin kami sembunyikan akhirnya terbuka juga. HRD Jakarta akhirnya mengetahui masalah ini. Kata Mbak Ratna, pihak pusat mempertanyakan kehamilan saya yang baru beberapa bulan bekerja. Namun Mbak Ratna dengan segala argumen tetap mempertahankan saya.

Alhamdulillah, sampai detik ini saya masih menjadi rekan kerja Mbak Ratna. Selama puluhan tahun kami bersama sudah banyak kejadian yang datang silih berganti. Dari yang menyenangkan, menyedihkan, menggelisahkan, mencemaskan, membuat deg-degan, dan lain-lain. Intinya semua jenis emosi sudah pernah kami rasakan. Seperti pasang surut air laut yang selalu datang, itu sudah hal biasa. Tapi secara keseluruhan, hubungan kami lebih banyak bahagianya.

Perlu digarisbawahi, bahwa apa yang beliau lakukan terhadap saya juga dilakukan kepada orang lain. Artinya bukan hanya kepada saya kebaikan-kebaikan itu, namun kepada semua orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Bahkan jika sudah diniatkan, kebaikan itu akan berdampak pengorbanan, namun beliau selalu ikhlas.

Beliau adalah teman, sahabat, guru, orangtua, sekaligus 'tempat sampah' bagi saya. Banyak pelajaran yang saya dapat dari beliau. Mulai dari prinsip yang kuat, kehebatan mempertahankan pendapat yang benar, mandiri, berani mencoba hal baru, bila menolong tidak setengah-setengah, selalu mengambil inisiatif, selalu memberi dukungan, menguatkan, menghargai dan hal baik lainnya.

Itulah mengapa tindakan-tindakan beliau selalu memberi semangat kepada saya untuk melakukan hal-hal positif dan bermanfaat bagi orang lain. Sudah ada contoh paling baik di depan saya, maka saya harus meniru nilai-nilai baik itu untuk saya lakukan juga, dengan cara dan gaya saya sendiri.

Hal terbaik yang dapat saya rasakan pengaruhnya adalah semakin tumbuhnya rasa percaya diri. Rasa percaya diri ini yang kemudian secara tidak langsung memberi keberanian kepada saya untuk menulis di blog sejak 7 tahun yang lalu.


Saat ini beliau adalah orangtua tunggal, karena suami beliau sudah meninggal dunia sejak 2 tahun yang lalu. Dan beliau tetap kuat, tangguh dan semakin bersemangat setiap harinya. Semoga hubungan kami ke depannya semakin bermanfaat bagi satu sama lain, dan bermanfaat juga bagi orang-orang di sekitar kami. Aamiin.

Tulisan ini adalah bagian dari kegiatan 1W1P Gandjel Rel sesi 2 periode2, dengan tema Sosok yang Menginspirasi. Dan saya senang sekali mempunyai kesempatan untuk menuliskan pengalaman saya bersama teman terbaik saya. Sosok inspiratif yang bisa menerima saya apa adanya, kemudian sedikit banyak memberi pengaruh positif dan mengubah saya menjadi lebih baik.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...