Friday, January 13, 2023

Tips Bermain Lato-lato Secara Aman Bagi Anak

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama kali mendengar kata lato-lato, saya pikir itu sejenis varian baru jajanan ke-Korea-an atau je-Jepang-an, gitu. Karena beberapa bulan terakhir ini memang lagi ngehits varian jajanan dari Korea atau Jepang, hehe. Ternyata lato-lato adalah sejenis permainan lama yang kembali marak.

Pun saya belum bisa menebak, seperti apakah permainan ini? Semacam game candy crush yang pernah menyita waktu saya kala itu? Atau jenis game online baru?

Oalah, ternyata permainan ini tidak ada hubungannya dengan internet sama sekali. Bahkan saya pernah familier juga pada waktu dulu, ketika jaman masih sekolah, hehe.

Sebelumnya, kurang lebih beberapa pekan belakangan ini, di sekitar rumah saya lumayan sering terdengar suara lato-lato yang dimainkan beberapa anak. Lumayan mengganggu kalau dimainkan pada jam-jam tertentu, dimana kebanyakan orang sedang beristirahat. Apakah hal ini mengganggu saya juga? Tergantung seberapa jauh sumber suaranya. Jika dimainkan agak jauh dari rumah, saya masih tidak terganggu. Namun jika ada beberapa anak yang memainkannya secara bersamaan tepat di depan rumah, haduhhhh.

Namun saya berusaha menerima. Bagaimanapun dulu saya juga pernah memainkan permainan lato-lato ini, saat masih kecil, seusia anak-anak tadi. Dulu saya dan teman-teman juga sangat menikmati keberisikan ini dengan asyiknya. Sambil tertawa gembira. Tidak peduli bagaimana perasaan para orang dewasa saat mendengarnya. Jadi ketika mendengar suara lato-lato ini saya berasa bernostalgia, hanya dengan posisi berbeda. Jika dulu saya dan teman-teman di posisi riang gembira, namun saat ini saya di posisi kurang nyaman kalau terlalu dekat dengan sumber suara, hehe. Jadi apakah lato-lato ini semacam permainan yang bermuatan karma? Hahaha. Tentu saja tidak, saya hanya bercanda.


Lato-lato sering disebut sebagai permainan tradisonal dan sudah ada sejak tahun 1960. Kata lato-lato merupakan sebutan permainan tradisional yang berasal dari bahasa Bugis. Sedangkan di daerah lain permainan ini memiliki namanya sendiri-sendiri. Misalnya di daerah Jawa sering disebut etek-etek, mirip dengan bunyi permainan ini.

Secara fisik lato-lato berbentuk dua bola keras yang terbuat dari plastik padat. Dua bola ini dihubungkan dengan tali, dan dibagian tengah tali biasanya ada semacam pengait sebagai pegangan. Cara bermainnya terlihat sangat mudah dan sederhana. Setelah tali dipegang dibagian tengah, kemudian pantulkan perlahan, semakin lama semakin cepat, sehingga pantulan menjadi beraturan dan terdengar bunyi khas lato-lato. Semakin cepat pantulan maka bunyinya semakin nyaring. Di sinilah sumber 'gangguan' dari permainan ini, hehe.

Namun pada kenyataannya permainan ini tidak sesederhana itu. Ini membutuhkan keahlian yang harus dipelajari secara perlahan. Dan jika sudah mahir akan menjadi permainan yang luar bisa. Kecakapan seorang anak (atau orang dewasa) dalam memainkan ini seperti sebuah pertunjukkan yang menakjubkan. Seperti permainan yoyo, yang tampaknya sangat sederhana, namun pada tingkat ketrampilan tinggi akan menjadi sebuah atraksi bernilai seni. Tidak heran jika permainan lato-lato juga dilombakan.

Apalagi bermain lato-lato ada banyak manfaat dan kelebihannya bagi anak-anak, antara lain: Melatih perkembangan motorik anak, melatih konsentrasi dan menjaga keseimbangan, melatih koordinasi tangan dan mata, melatih kesabaran, menghilangkan stres, mengalihkan dari gajet, bersosialisasi dengan teman-teman, harganya murah, dan lain-lain.

Namun ada juga beberapa kekurangannya, misalnya: Suara yang mengganggu, bisa melukai telapak atau pergelangan tangan pada saat tahap latihan, kekhawatiran jika bolanya pecah dan berakibat fatal, terjadi pertengkaran atau berebut dan saling memukulkan bola lato-lato (pada anak dengan usia lebih kecil), dan kemungkinan buruk lainnya.

Sehingga ada beberapa ibu yang melarang anaknya bermain lato-lato, atau merasa tidak punya waktu jika harus memperhatikan/menjaga saat anak-anak bermain lato-lato dalam waktu lama, karena mengganggu pekerjaan rumah tangga lain.

Kalau menurut saya, sebaiknya para ibu tidak perlu melarang anak-anak bermain lato-lato, karena sebagai orangtua pasti punya strategi untuk menutup beberapa kekhawatiran di atas. Lagipula, tren lato-lato ini memberi kesempatan bagi anak-anak untuk melepas gajet selama beberapa waktu (entah sampai kapan, lebih lama lebih baik). Karena menurut saya tren ini cepat atau lambat pasti akan hilang juga, dan anak-anak pasti akan kembali ke selera asal yaitu gajet, hehe.


Beberapa strategi yang mungkin bisa dilakukan para ibu untuk meminimalisir kekhawatiran tersebut di atas, misalnya:

1. Melindungi telapak tangan atau pergelangan tangan anak dengan memakaikan kaos tangan yang tebal, atau membebat pergelangan tangan anak dengan semacam syal atau selendang atau pasmina. Sehingga jika terantuk lato-lato tidak begitu sakit.

2. Melindungi bagian kepala/muka/wajah anak dengan helm, jika khawatir bola lato-lato akan pecah dan bisa berakibat fatal, misalnya kena mata atau wajah.

3. Melapisi bagian bola dengan sesuatu untuk meredam bunyi yang mengganggu. Mungkin bahannya bisa sesuatu yang lembut namun tidak berpengaruh pada pantulan bola.

4. Membuat kondisi supaya anak-anak tidak bertengkar, misalnya bermainnya bergantian dengan batas waktu tertentu. Atau bila memungkinkan setiap anak dibelikan lato-lato sendiri sehingga tidak berebutan.

5. Menjaga jarak dengan teman, jangan terlalu dekat. Takutnya bisa bersenggolan dan terjadi pertengkaran.

6. Dan ide-ide lain yang sekiranya bisa mengijinkan anak bermain lato-lato tanpa membuat khawatir para orangtua.

Namun penjagaan dari orangtua harus tetap ada, hanya tidak terlalu berlebihan harus diawasi terus di depan mata. Bisa kok ditinggal sambil mengerjakan pekerjaan lain, hanya sesekali dilihat. Dan ide-ide perlindungan di atas hanya pendapat saya saja, bisa diabaikan jika terlalu ribet atau mungkin orangtua bisa mencari ide lain yang lebih baik.

Intinya, sebaiknya tidak melarang anak bermain lato-lato karena mungkin waktunya hanya beberapa minggu lagi setelah itu akan berganti tren lain. Jika tetap khawatir lakukan antisipasi dan awasi. Namun keputusan tetap berada di tangan orangtua masing-masing, mau mengijinkan atau melarang. Tapi sebenarnya kasihan kalau dilarang, hehe.

Semoga tren lato-lato atau permainan tradisional anak-anak jaman dulu lainnya, yang kembali viral, akan bertahan cukup lama. Setidaknya ini kesempatan dan waktu yang baik supaya anak teralihkan dari gajet. Saya pernah khawatir karena membandingkan jenis permainan anak jaman saya kecil dengan jaman anak saya. Akankan permainan saya dulu tidak akan pernah muncul lagi selamanya? Hilang dan tenggelam begitu saja, seiring berganti masa? Kadang saya merasa iba dengan anak saya dan generasinya yang mungkin tidak bisa menikmati kebahagiaan bermain dalam arti sebenarnya, seperti generasi saya dan teman-teman. Ternyata kekhawatiran saya terpatahkan sekarang.

Bisa jadi tren lato-lato ini tidak bertahan lama, kemudian akan hilang cepat atau lambat karena kebosanan atau alasan lain. Namun saya berharap semoga akan bermunculan tren-tren permainan anak tradisional lain yang akan menggantikan. Supaya anak cucu kita juga bisa merasakan bermain bersama teman-temannya dengan permainan anak yang sebenarnya. Aamiin.

Bagaimana pendapat teman-teman, apakah tren lato-lato ini membuat kita merindukan dakonan, bekelan, engklek, seledur, benthik dan permainan lain jaman kita masih imut-imut dan lucu?

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...