Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Apa kabar teman-teman? Semoga hari ini kita tetap baik-baik saja dan bahagia, apapun yang terjadi. Aamiin. Meskipun kadang kita sedang dalam suasana bad mood, namun di depan orang-orang kita tetap harus terlihat baik-baik saja. Ada yang pernah mengalami hal seperti ini?
Bad mood, saya artikan sebagai suasana hati yang sedang buruk. Bisa sedang marah, jengkel, kecewa, dan lain sebagainya. Pokoknya bawaannya lagi pengen hantam tembok, gebrak meja atau tendang apapun yang ada di depan mata. Hahaha. Tapi itu hanya bawaan atau keinginan saja ya, bukan melakukan betulan.
Saya sendiri sering merasa bad mood, bahkan secara tiba-tiba. Misalnya perasaan saya satu jam yang lalu biasa-biasa saja, tiba-tiba merasa jengkel dan marah. Apalagi saya termasuk orang yang ekspresif atau tidak bisa menyembunyikan perasaan. Jadi kelihatan sekali perubahan ekspresi di wajah saya kalau sedang bad mood. Muka langsung cemberut dan terdiam, hehe.
Kalau lagi di rumah sih tidak masalah ya, namun bagaimana saat di tempat kerja, atau di tempat umum bersama banyak orang? Buat saya itu susah sekali. Seringnya kalau saya lagi bad mood secara tiba-tiba pasti ketahuan karena raut wajah saya tidak bisa menyembunyikan.
Namun semakin bertambahnya usia, pasti nggak lucu ya kalau tiba-tiba ekspresi muka jadi jutek dan mulut manyun, karena serangan bad mood secara tiba-tiba? Nanti dikira udah tua tapi tidak bisa mengendalikan emosi, hehe. Lalu bagaimana solusi saya?
Jika saya mengalami bad mood, pertama saya akan mencari apa penyebabnya, kemudian berusaha mencari solusi supaya perasaan bad mood tersebut tidak berkepanjangan. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, ada 3 cara yang saya anggap bisa meredakan bad mood.
1. Mengubah pola pikir
Di tempat kerja.
Jika pimpinan atau teman kerja mengkritik pekerjaan saya padahal saya sudah berusaha mengerjakan secara maksimal, maka saya akan langsung bad mood. Kesal dan kecewa. Biasanya saya akan melakukan argumen untuk mempertahankan hasil pekerjaan saya terlebih dahulu, namun jika pada akhirnya pendapat saya tetap dianggap tidak benar, saya hanya bisa pasrah. Berusaha tetap tenang dan tersenyum meskipun hati terasa teriris-iris, hehe.
Hal yang kemudian saya lakukan untuk segera meredakan perasaan kesal saya adalah, saya cukup mengubah pola pikir saya. Bahwa bagaimanapun pimpinan dan teman saya adalah orang terdekat saya di tempat kerja. Selama ini mereka lebih sering berbaik hati kepada saya daripada mengkritik saya. Mereka sering mentraktir saya makan siang, membelikan minuman atau membawa oleh-oleh ketika pulang dari bepergian. Mereka juga banyak membantu saya dalam pekerjaan, saya juga sering curhat dan berbagi nasehat bersama teman saya, dan banyak lagi jenis kebaikan lainnya.
Lagipula kritikan dalam masalah pekerjaan bisa jadi penting buat saya juga. Supaya saya lebih teliti dan lebih fokus lagi supaya tidak melakukan kesalahan yang sama. Pada akhirnya saya akan berpikir, bahwa lebih baik saya dikritik untuk hasil yang lebih baik selanjutnya, daripada didiamkan namun selalu melakukan kesalahan.
Biasanya setelah beberapa menit membolak-balik hal ini, perasaan saya akan berangsur lebih baik. Wajah saya mengendur dari ketegangan, hati saya luruh dari kebekuan dan perasaan menjadi sejuk dari kepanasan. Alhamdulillah.
Di rumah
Kadang-kadang saya merasa kesal juga dengan keluarga, hehe. Dan solusinya sama dengan kasus di tempat kerja, yaitu saya harus mengubah pola pikir saya tentang orang-orang terdekat saya ini. Keluarga adalah orang-orang yang paling mudah saya tolerir. Kalaupun saya sedang bad mood disebabkan masalah keluarga, maka waktu yang saya butuhkan untuk pulih kembali lebih cepat daripada masalah dengan orang lain.
Justru sebaliknya, jika saya masih membawa sisa-sisa bad mood dari tempat kerja misalnya, maka begitu bertemu keluarga beban kejengkelan atau kemarahan yang masih ada bisa seketika sirna. Karena getaran dan aura di rumah mengubah perasaan saya, menjadi lebih positif, nyaman dan merasa terlindungi.
Di lingkungan tempat tinggal
Apakah tetangga bisa menjadi sumber perasaan bad mood bagi saya? Sejauh ini tidak terlalu berpengaruh. Karena saya punya prinsip, hubungan dengan tetangga itu harus unik. Jangan terlalu dekat dan jangan pula terlalu jauh. Sedang-sedang saja, untuk menghindari perasaan bad mood, hehe.
Namun bagaimana jika kita merasa bad mood dengan tetangga? Pertama, jangan terlalu dibawa baper hubungan pertetanggaan. Bagaimana bisa kesal kalau setiap hari selalu bertemu? Sekesal-kesalnya terhadap tetangga, apapun alasan dan penyebabnya, janganlah terlalu lama. Ada yang bilang bahwa hubungan pertetanggaan itu lebih dekat daripada hubungan persaudaraan.
Kedua, utak-atik lagi pola pikir kita. Jika tiba-tiba kita butuh pertolongan mendesak, pasti yang pertama kita datangi adalah tetangga. Kalau pas masak tiba-tiba kehabisan garam, yang bisa memberikan pertolongan darurat juga tetangga. Kalau kebetulan mau pergi, titip rumah atau jemuran juga ke tetangga. Kalau tiba-tiba lapar sementara lagi tidak punya apa-apa, eh mendadak tetangga datang mengantar makanan. Jika dipikir-pikir, ternyata tetangga bisa menjadi solusi andalah terhadap masalah kita ya, hehe. Nah, setelah menerapkan pola pikir seperti itu, pasti perasaan bad mood terhadap tetangga seketika sirna. Semoga.
2. Kompromi atau berdamai dengan keadaan
Bagaimana jika saya merasa bad mood di tempat umum? Misalnya di dalam angkot, di halte, di taman, di pusat belanja, di tempat makan, atau di tempat umum lainnya. Kadang ada saja perilaku orang yang tiba-tiba membuat saya bad mood. Misalnya ada yang merokok di tempat umum, berbicara keras-keras sambil tertawa-tawa, membawa anak berlarian di tempat belanja sementara orangtua diam saja, dan lain-lain.
Jika memungkinkan pasti saya akan pergi menghindar, namun jika tidak memungkinkan ya harus dihadapi. Selain saya harus kembali mengubah pola pikir, saya juga akan berkompromi dengan keadaan. Ya udah, toh hal ini tidak akan lama, tidak sampai 1 jam. Bukankah setelah ini kami tidak akan bertemu lagi karena memang tidak saling mengenal. Dan kalimat kompromi lainnya, yang sekiranya bisa menghibur hati saya.
Atau saya akan melakukan hal lain yang bisa memecah fokus saya pada penyebab bad mood saat itu. Bisa memainkan ponsel atau mencari pusat perhatian lainnya. Bagaimanapun juga, saya tidak mau terlalu lama merusak perasaan saya yang satu jam lalu masih baik-baik saja.
3. Instrospeksi
Saya sering merasa tiba-tiba perasaan menjadi cemas, khawatir, ketakutan, berdebar-debar tanpa alasan yang jelas. Hal ini membuat suasana hati dan perasaan saya terganggu. Perasaan yang membuat saya bad mood, dan terus bertanya-tanya sebenarnya ada apa. Namun kadang saya abaikan karena belum ada waktu untuk mengurai penyebabanya. Setelah ada waktu santai buat berpikir, baru saya mencoba mencari sumber permasalahan ini.
Setelah saya urutkan permasalahan yang terjadi pada hari tersebut, akhirnya saya menemukan sumber permasalahan yang sebenarnya. Biasanya justru penyebabnya adalah masalah yang tidak berat namun tidak segera saya selesaikan. Masalah tersebut saya gantung atau tunda, karena ada pekerjaan lain yang lebih penting. Namun kemudian saya lupa kalau masih ada masalah yang menggantung. Dari sini mungkin ada ganjalan yang saya rasakan tetapi saya belum mengingat kembali masalah tersebut, sehingga ada gangguan dalam pikiran. Setelah saya temukan penyebabnya, kemudian segera saya selesaikan, barulah perasaan saya tenang kembali.
Atau perasaan ketakutan yang berlebihan terhadap suatu masalah. Sebenarnya saya tinggal meghadapai saja masalah tersebut, namun kadang belum mencoba sudah dihadang perasaan tidak percaya diri. Jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu. Semakin lama masalah ini saya pendam tanpa penyelesaian, semakin perasaan saya tidak menentu. Dan setelah saya hadapi dan bersiap dengan resikonya, ternyata penyelesainnya justru lebih mudah dari bayangan saya. Jadi saya harus banyak-banyak introspeksi diri, karena ternyata sering perasaan bad mood itu disebabkab oleh diri saya sendiri.
Itulah 3 cara mengatasi bad mood yang sering saya alami selama ini. Apakah teman-teman pernah mengalaminya juga?
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment