Assalamualaikum.
Halo teman-teman, apa kabar? Semoga kita dan keluarga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT, aamiin.
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan, nih. Selain harus membayar hutang puasa tahun lalu, kira-kira apa lagi yang perlu kita persiapkan untuk menyambut Ramadan tahun ini?
Pastinya banyak hal yang harus kita persiapkan. Salah satu yang penting adalah mempersiapkan diri kita secara fisik dan mental. Karena puasa Ramadan adalah ibadah fisik sekaligus mental secara bersamaan.
Ngomongin persiapan secara fisik, pastinya kita paham bahwa kesehatan fisik sangat berpengaruh dalam ibadah puasa. Karena kita tidak makan dan minum sejak subuh sampai maghrib, sementara kegiatan kita tetap berjalan seperti hari-hari biasa.
Jadi kita harus memastikan untuk makan sahur dan berbuka dengan makanan yang sehat. Makanan dengan porsi tepat dan seimbang antara karbo, protein dan sayur. Kemudian minum air putih yang cukup, dan beristirahat yang cukup pula. Jangan lupa sempatkan berolah raga juga, meskipun porsinya tidak sama saat sedang tidak berpuasa.
Bagi saya, menjaga kondisi fisik selama berpuasa sangatlah penting. Namun hal lain yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan dan menjaga kondisi mental dan spiritual. Karena tidak semua orang benar-benar telah siap secara mental ketika bulan Ramadan datang.
Saya sendiri pasti akan bingung jika ditanya, persiapan mental seperti apa yang harus saya lakukan ketika bulan Ramadan datang? Karena saya sendiri juga penasaran, sebenarnya persiapan seperti apa sih, yang harus saya lakukan supaya siap memasuki bulan Ramadan tahun ini?
Nah, kebetulan sekali rasa penasaran saya terjawab saat mengikuti kajian rutin bulanan yang diadakan di masjid di lingkungan rumah saya. Ini adalah acara pengajian bulanan ibu-ibu, dan tema kali ini pas banget sebagai materi menjelang datangnya bulan Ramadan sebentar lagi.
Bertempat di Masjid Jabal Nuur, Perumahan Gedawang Permai 3 Gedawang, Banyumanik, Semarang. Hari Ahad, tanggal 20 Maret 2022, jam 16.00. Pembicara adalah Ustadzah Sukmadiarti Perangin angin, dengan tema "Self Healing, Sambut Ramadan dengan Hati Tenang".
Usatdzah Sukma sudah beberapa kali mengisi kajian ibu-ibu di sini. Beliau yang seorang psikolog, pasti penyampaian materi pendekatannya secara psikologis juga. Ini sangat menarik kan ya.
Tema kali membuat saya makin antusias karena akan menjawab pertanyaan, bagaimana cara kita mempersiapkan mental untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini.
Menurut Ustadzah Sukma, persiapan mental yang kita lakukan menjelang datangnya bulan Ramadan,adalah:
1. Pemaafan.
- Pemaafan pada diri sendiri.
Ada kalanya kita masih ragu-ragu, apakah kita telah benar-benar siap memasuki bulan Ramadan kali ini? Kadang kita justru menjadi pesimis, akankah kita bisa menjalankan ibadah puasa ini dengan baik? Lebih baik dari tahun sebelumnya, atau sebaliknya?
Jadi kita harus memaafkan diri sendiri. Kita niatkan bahwa kita akan melakukan hal yang lebih baik dari kemarin. Bayangan atau pikiran bahwa selama ini kita lebih suka bermalas-malasan, melalaikan waktu ibadah dan ketakutan-ketakutan lain harus kita hilangkan. Sehingga perasaan pesimis tadi akan mengubah semangat kita menjadi perasaan optimis. Kita harus yakin, bahwa kita bisa melakukan perilaku-perilaku yang lebih baik.
- Pemaafan orang-orang di sekitar kita.
Baik itu keluarga, tetangga, saudara, teman dan lainnya.
Bagaimana kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik, jika masih ada perasaan marah atau dendam terhadap orang-orang di sekitar kita? Hal ini pasti akan membuat ibadah kita tidak maksimal. Maka kita harus memaafkan mereka dengan ikhlas.
Setelah kita bisa memaafkan orang-orang terdekat, kita harus meminta maaf kepada mereka juga. Karena bisa jadi ada perilaku kita yang membuat orang-orang terdekat kita merasa tersakiti, meskipun kadang kita tidak menyadari atau tidak bermaksud menyakiti mereka.
- Pemaafan kepada Allah.
Meminta maaf kepada Allah dan banyak berdoa supaya Allah memudahkan kita saat menjalankan ibadah puasa nanti. Berusaha membersihkan jiwa dan hati supaya perasaan kita menjadi lapang ketika bulan Ramadan datang.
Dengan melakukan pemaafan-pemafaan di atas, insya Allah kita akan memasuki bulan Ramadan dengan hati tenang dan lapang.
2. Menuliskan target Ramadan.
Percayalah, bahwa ketika kita memikirkan sesuatu maka kita bisa mencapainya. Karena ada dorongan di bawah sadar yang mengingatkan diri sendiri. Maka jika kita punya target atau impian di bulan Ramadan, sebaiknya kita menuliskannya. Tujuannya supaya target tersebut selalu kita ingat dan berusaha untuk memenuhinya.
Apa sih target kita pada bulan Ramadan nanti? Apa saja yang sekiranya kita ingin lakukan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Misalnya, kita bisa memaksimalkan ibadah atau amalan-amalan yang selama ini belum kita lakukan secara baik. Tuliskan saja semua target atau keinginan kita. Contoh:
- Kita ingin lebih tertib sholat Dhuha, dan menambah rakaat yang semula hanya 2 rakaat menjadi 4 rakaat atau lebih.
- Sholat tahajud juga lebih baik lagi. Mungkin yang sebelumnya malas bangun malam, sekarang harus lebih rajin dan semangat untuk bisa sholat tahajud.
- Bersedekah berbagi buka puasa, atau sedekah lain untuk orang-orang yang membutuhkan.
- Membaca Al Qur'an atau tadarus. Luangkan waktu untuk memperbanyak membaca Al Qur'an. Tingkatkan jumlah bacaan daripada sebelumnya.
- Dan lain-lain.
Kita harus berani menuliskan target-target tersebut supaya ada dorongan untuk memenuhinya. Ibaratnya kita mengajukan proposal kepada Allah, dan memohon bantuan Allah untuk membantu mewujudkannya. Jadi tidak semata-mata hanya mengandalkan kekuatan sendiri namun harus meminta bantuan Allah. Kita pasrahkan kepada Allah.
Namun ingat, bahwa kita bisa menginginkan sesuatu setinggi-tingginya akan tetapi harus realistis, namun jangan pula terlalu pesimis, takut jika keinginan tersebut tidak terwujud. Maka kita harus melibatkan Allah, supaya hati kita lapang, gembira dan tantangan-tantangan bisa kita lalui dengan mudah.
Dalam bulan Ramadan, kita membangun habit (kebiasaan) yang baik dengan menjalankan ibadah-ibadah yang lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. Sehingga kita berharap kebiasaan baik ini akan berlanjut pada bulan-bulan setelah Ramadan dan tetap istiqomah sampai bertemu lagi dengan Ramadan berikutnya.
Paling penting adalah niat yang kuat semata-mata mengharap ridho Allah. Bukan semata-mata karena nafsu untuk mendapatkan banyak pahala.
Lalu bagaimana jika target atau impian-impian yang telah kita tulis ternyata tidak tercapai? Jangan menyesal. Ibarat kata pepatah: "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang".
Artinya jika target kita tidak tercapai seluruhnya, paling tidak sudah tercapai setengahnya atau lebih. Tetap lebih baik atau ada peningkatan dibanding sebelumnya. Kita harus menerima dan tetap bersyukur, karena dengan kemampuan yang terbatas masih bisa mengerjakan meskipun belum sesuai target yang ditetapkan. Kita bisa mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang belum tercapai, dan bisa mempersiapkan untuk mengejar pada Ramadan tahun berikutnya.
Terakhir, bagaimana cara kita mempertahankan kebiasaan selama bulan Ramadan, untuk bisa diterapkan pada bulan-bulan setelah Ramadan?
Lingkungan atau komunitas yang baik dan mendukung. Kita bisa mengikuti komunitas ODOJ (one day one juz) untuk mempertahankan kuantitas bacaan Al Qur'an. Kita juga bisa mengikuti komunitas tahsin untuk memperbaiki kualitas bacaan Al Qur'an. Atau kita bisa mengikuti komunitas sedekah, yang rutin bersedekah baik secara kelompok maupun perorangan (contoh, sedekah Jumat, dan lainnya).
Dan masih banyak lagi komunitas yang bisa mendukung kita untuk tetap bisa istiqomah menjalankan ibadah seperti ibadah pada bulan Ramadan. Jika kita kesulitan menemukan komunitas yang kita inginkan, kita bisa berinisiatif membentuk sendiri komunitas tersebut bersama para tetangga, teman atau saudara. Insya Allah, jika niat kita baik maka Allah akan memudahkan dan melancarkan. Aamiin.
Demikianlah, materi menarik pada pengajian ibu-ibu yang saya ikuti bulan ini. Saya merasa puas karena sudah mendapat jawaban, persiapan mental seperti apa yang harus kita lakukan menjelang datangnya bulan Ramadan sebentar lagi.
Semoga Allah akan mempertemukan kita dengan Ramadan tahun ini, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan persiapan yang maksimal, dan insya Allah hasilnya juga maksimal. Marhaban ya Ramadan.
Wassalamualaikum.
No comments:
Post a Comment