Hallo teman-teman, apa kabar
kartu kredit
kalian hari ini? Semoga tetap sehat dan selalu semangat menjalankan aktivitas sehari-hari yaa, aamiin :)
Ada yang belum punya kartu kredit? Atau sudah punya tapi belum aktif? Wah saya ngacung sendirian nih :)
Ada yang belum punya kartu kredit? Atau sudah punya tapi belum aktif? Wah saya ngacung sendirian nih :)
Hari gini belum punya kartu kredit? Kalau saya sih mending punya kartu debet dan banyak isinya hehe..
Ngomongin kartu kredit, saya punya pengalaman bagaimana cara mendapatkan kartu kredit tersebut, yaitu :
Seperti yang pernah teman-teman alami, saya juga pernah loh ditawarin kartu kredit ketika sedang berada di bank. Biasanya sih sebelum si mbak atau si mas mempromosikan lebih jauh, saya akan langsung memotong dengan sopan bahwa saya belum butuh kartu kredit.
|
| Gambar : Pixabay.com |
Ngomongin kartu kredit, saya punya pengalaman bagaimana cara mendapatkan kartu kredit tersebut, yaitu :
1. Ditawarin sales di bank
Seperti yang pernah teman-teman alami, saya juga pernah loh ditawarin kartu kredit ketika sedang berada di bank. Biasanya sih sebelum si mbak atau si mas mempromosikan lebih jauh, saya akan langsung memotong dengan sopan bahwa saya belum butuh kartu kredit.
Dan pastinya mereka akan tetap berusaha 'merayu' kita dengan jurus-jurus ampuh supaya kita tertarik untuk menerima penawaran mereka. Misalnya mereka akan mengatakan bahwa iuran tahunan lebih murah, banyak promo, nambah limitnya mudah dan lain sebagainya.
Tetapi saya juga akan membalas jurus serangan mereka dengan jurus tangkisan yang lebih ampuh dan langsung 'mematikan'.
" Maaf mbak/mas, saya tidak tertarik ". Selesai.
Disisi lain, saya pernah mendengar cerita teman sekantor tentang kartu kredit juga. Tentang sebuah keluhan. Bahwa teman saya ini pernah menerima penawaran kartu kredit oleh sales di sebuah bank juga. Dan setelah adegan rayu-merayu akhirnya teman saya tertarik.
Kemudian mulailah teman saya mengisi aplikasi dan wawancara singkat di tempat kejadian disertai peminjaman KTP untuk mengisi data-data. Setelah selesai, teman saya dijanjikan akan dihubungi lagi. Menunggu persetujuan dari pihak bank.
Kemudian mulailah teman saya mengisi aplikasi dan wawancara singkat di tempat kejadian disertai peminjaman KTP untuk mengisi data-data. Setelah selesai, teman saya dijanjikan akan dihubungi lagi. Menunggu persetujuan dari pihak bank.
Namun setelah beberapa waktu menunggu ternyata kartu kredit tersebut tidak mendapat persetujuan dari bank penerbit.
Teman saya menggerutu, " Nggak sesuai dengan waktu nawarin, sampai ngrayu-ngrayu segala dan agak memaksa. Tapi nyatanya nggak acc.. ". Haha..tampak kesal dia.
Dari pengalaman teman diatas, mungkin kita mendapatkan kesan bahwa mendapatkan kartu kredit itu seakan-akan mudah, karena selalu ditawarkan oleh sales-sales di bank.
Tetapi tidak semua berakhir kecewa kok, karena apabila pihak bank menyetujui pasti kartu itu akan kita dapatkan juga.
Dari pengalaman teman diatas, mungkin kita mendapatkan kesan bahwa mendapatkan kartu kredit itu seakan-akan mudah, karena selalu ditawarkan oleh sales-sales di bank.
Tetapi
ternyata sulit juga karena setelah mendaftar belum tentu disetujui.
Jadi ngapain dong para sales kartu kredit itu berusaha merayu kita namun
kenyataannya hampa. Apakah mereka membohongi kita dengan memberi
harapan palsu? Tidaklah, pekerjaan mereka adalah memasarkan kartu
kredit, hanya itu. Masalah disetujui atau tidak itu bukan wewenang
mereka melainkan keputusan bank, dengan berbagai alasan pastinya.
2. Pengajuan ke Customer Service
Cara lainnya adalah mengurus langsung ke customer service. Kalau kita memang sedang membutuhkan kartu kredit bisa juga mengajukan langsung ke bank yang kita inginkan.
Kita tinggal mengunjungi customer service dan menanyakan persyaratannya, pasti mbak CS akan dengan senang hati menjelaskan secara detail.
Setelah mengisi aplikasi dan menyerahkan beberapa persyaratan, mbak CS mungkin akan meminta waktu beberapa hari untuk proses pengajuan.
Kita tinggal mengunjungi customer service dan menanyakan persyaratannya, pasti mbak CS akan dengan senang hati menjelaskan secara detail.
Setelah mengisi aplikasi dan menyerahkan beberapa persyaratan, mbak CS mungkin akan meminta waktu beberapa hari untuk proses pengajuan.
Selanjutnya tinggal menunggu hari baik itu tiba, yaitu sebuah kabar gembira bahwa kartu kredit kita telah disetujui. Yeaayyy!!
Tetapi apabila belum disetujui jangan sedih ya, kita bisa mengajukan lagi lain kali atau mungkin ingin mencoba ke bank lain? Silahkan saja :)
Tetapi apabila belum disetujui jangan sedih ya, kita bisa mengajukan lagi lain kali atau mungkin ingin mencoba ke bank lain? Silahkan saja :)
3. Penawaran lewat Telpon
Saya misalnya, tidak pernah berkeinginan sedikitpun untuk mendapatkan kartu kredit, ee..tahu-tahu malah ditawarin. Nawarinnya juga hanya lewat telephone.
Sekitar pertengahan September 2016 lalu, saya mendapat telephone melalui ponsel dan si penelepon mengaku dari salah satu bank swasta yang memang saya sebagai salah satu customernya.
Mas ini sangat sopan, ramah dan suaranya merdu seperti penyiar radio. Dia memperkenalnya diri sebagai mas X dari bank Y dan mulai merayu saya.
" Selamat pagi bu, saya X dari bank Y. Benar ini dengan ibu Anjar Sundari? Ibu nasabah bank Y bukan? Ibu pemilik nomor rekening 9999999999? Apakah ibu masih beralamat di jl. Z (kemudian mas X ini menyebutkan alamat saya dengan lengkap) "
Tidak ada jawaban lain dari serentetan pertanyaan ini selain : ya ya ya dan ya.. :)
" Saya beritahukan bahwa ibu mendapatkan fasilitas untuk memiliki kartu kredit dari bank kami, karena selama ini ibu pengguna payroll dan internet banking dari bank kami.. "
" Tapi saat ini saya tidak membutuhkan kartu kredit, mas.. "
" Oh.. tidak apa bu. Ibu bisa mengaktifkan kapan saja, tidak harus sekarang kok. Siapa tahu besok-besok ibu butuh jadi tinggal mengaktifkan saja.. "
" Aduh gimana yaa.. ? "
" Ambil saja bu. Biaya tahunan hanya 125.000 dan gratis untuk 1 tahun pertama. Artinya selama 1 tahun kedepan ibu tidak dikenai biaya. Dan banyak promonya loh bu..."
Dan bla bla bla..
Sampai saya tidak bisa mengelak lagi.
" Ibu hanya perlu menyediakan foto copy kartu keluarga dan foto copy KTP, dan ibu tidak perlu repot-repot karena besok akan ada petugas dari bank yang akan mengambil data-data ibu. Nanti ibu hanya perlu tanda tangan saja dan menunggu kurang lebih 2 minggu untuk proses pembuatan kartu.
Setelah jadi nanti kartunya akan dikirim langsung ke alamat ibu. Ibu menginginkan dikirim ke alamat rumah atau kantor? Setelah menerima ibu sudah bisa mengaktifkan dan langsung menggunakan kartu kreditnya.. "
Hadeuuwww..masnya ini kata-katanya nerocos terus tanpa bisa dihentikan tapi suaranya empuk dan merdu sekali. Mungkin saya tidak kuasa membantah karena kemerduan suaranya kali yaa.. :)
Saya pikir, ah sudahlah diterima saja supaya urusannya cepat selesai. Mau diprotes paling juga ngeyel terus, sementara ini kan masih dalam jam kerja, nggak enak kalau menerima telpon pribadi terlalu lama.
Lagipula kan belum tentu juga aplikasinya nanti disetujui oleh bank, seperti pengalamn teman saya. Akhirnya saya bisa bernafas lega ketika telpon ditutup dengan janji dari 'mas penyiar' bahwa 2 hari lagi akan ada petugas datang untuk mengambil persyaratan yaitu copy KK dan copy KTP.
Meskipun setelahnya saya meragukan kebenaran telpon tadi. Saya cek nomor yang masuk barusan, ternyata dari Jakarta. Kemudian saya catat. Selanjutnya saya telpon Customer Service bank tersebut melalui sederet nomor cantik yang merupakan nomor layanan customer.
Saya konfirmasi apakah benar nomor tersebut adalah nomor resmi bank Y dan ada program penawaran kartu kredit lewat telpon?
Benar. Legalah saya, takutnya ini penipuan. Hari gini modus penipuan kan macam-macam yaa..
Dua hari berikutnya, ada seorang petugas yang datang ke kantor untuk mengambil berkas persyaratan. Saya tanya mas tersebut, ternyata bukan dari bank Y melainkan dari perusahaan jasa yang bekerja sama dengan bank Y untuk urusan pengambilan berkas kartu kredit.
Setelah pengisian data yang hanya beberapa menit dan saya tanda tangan dibagian akhir form isian tersebut, selesailah sudah aplikasi kartu kredit saya. Tinggal menunggu kurang lebih 2 minggu untuk proses pembuatan kartu.
Beberapa hari berikutnya ada telpon lagi dari bank Y, tapi kali dari seorang perempuan yang sama-sama mempunyai suara merdu seperti masnya tempo hari. Maksudnya untuk mengkonfirmasi pengajuan kartu kredit saya.
" Selamat pagi bu, saya dari bank Y bermaksud mengkonfirmasi. Ini data ibu telah masuk ke kantor kami, benar ya ibu telah mengajukan kartu kredit? Ada nomor telpon lain yang bisa kami hubungi? Alamat rumahnya masih sama dengan yang ini...?
Bla bla bla... Saya menjawab : ya ya ya, sambil memejamkan mata.
Pengajuan kartu kredit?? Hellooowww... Bukannya anda yang merayu-rayu saya...?? Ah, sudahlah..
Tahap berikutnya, ada seorang petugas bank telpon ke kantor saya dan ingin bertemu dengan pimpinan untuk mengkonfirmasi tentang data pegawai. Mungkin mau tanya-tanya ya, benar nggak saya kerja disini, sudah berapa lama, gaji berapa, masih punya hutang tidak dan sebagainya..
Namun tidak bertemu karena pimpinan saat itu sedang keluar kota. Beberapa hari kemudian ada yang telpon lagi, dan terulang beberapa hari berikutnya. Semuanya tidak berhasil bertemu dengan pimpinan saya karena lagi-lagi sedang tugas keluar kota.
Saat itu saya tidak berharap banyak kartu kredit tersebut akan disetujui, bahkan sejak semula tidak pernah menginginkan. Waktu itu saya menyetujui mengisi aplikasi pengajuan karena supaya percakapan dengan mas penyiar cepat selesai saja, adapun faktor lain hanya karena iseng.
Tapi seminggu kemudian atau tepatnya pertengahan bulan oktober 2016, kartu kredit itu sudah sampai di rumah saya. Agak surprise, karena artinya kartu ini bisa lolos tanpa konfirmasi dengan pimpinan saya, hehe..
Saya buka amplop yang agak tebal itu dan menemukan 2 buah kartu kredit sekaligus. Satu kartu utama dan satu lagi kartu tambahan, dengan limit kredit total untuk kedua kartu hanya 3 juta.
Dan sampai tulisan ini saya buat keduanya belum saya aktifkan. Entah merasa belum perlu atau tidak perlu sama sekali. Mungkin suatu hari nanti yaa.. :)
Kesimpulan dari tulisan ini adalah : Diterima atau tidaknya pengajuan kartu kredit kita sangat bergantung pada performa kita dalam lingkup perbankan. Meskipun saya tidak tahu secara detail faktor apa saja yang bisa mempengaruhi keputusan bank untuk menyetujui atau menolak permohonan kartu kredit kita.
Karena sebanyak-banyaknya peminat, pasti pihak bank juga tidak mau sembarangan 'meminjamkan' uangnya untuk dipergunakan oleh orang-orang yang tidak punya 'jaminan' di bank tersebut.
Mungkin seperti itu kira-kira yaa.. :)
Nah, bagaimana teman-teman mendapatkan kartu kredit kalian? Sama dengan cara diatas atau dengan cara lain? Silahkan share dikolom komentar :)
Wassalamu'alaikum.
" Ambil saja bu. Biaya tahunan hanya 125.000 dan gratis untuk 1 tahun pertama. Artinya selama 1 tahun kedepan ibu tidak dikenai biaya. Dan banyak promonya loh bu..."
Dan bla bla bla..
Sampai saya tidak bisa mengelak lagi.
" Ibu hanya perlu menyediakan foto copy kartu keluarga dan foto copy KTP, dan ibu tidak perlu repot-repot karena besok akan ada petugas dari bank yang akan mengambil data-data ibu. Nanti ibu hanya perlu tanda tangan saja dan menunggu kurang lebih 2 minggu untuk proses pembuatan kartu.
Setelah jadi nanti kartunya akan dikirim langsung ke alamat ibu. Ibu menginginkan dikirim ke alamat rumah atau kantor? Setelah menerima ibu sudah bisa mengaktifkan dan langsung menggunakan kartu kreditnya.. "
Hadeuuwww..masnya ini kata-katanya nerocos terus tanpa bisa dihentikan tapi suaranya empuk dan merdu sekali. Mungkin saya tidak kuasa membantah karena kemerduan suaranya kali yaa.. :)
Saya pikir, ah sudahlah diterima saja supaya urusannya cepat selesai. Mau diprotes paling juga ngeyel terus, sementara ini kan masih dalam jam kerja, nggak enak kalau menerima telpon pribadi terlalu lama.
Lagipula kan belum tentu juga aplikasinya nanti disetujui oleh bank, seperti pengalamn teman saya. Akhirnya saya bisa bernafas lega ketika telpon ditutup dengan janji dari 'mas penyiar' bahwa 2 hari lagi akan ada petugas datang untuk mengambil persyaratan yaitu copy KK dan copy KTP.
Meskipun setelahnya saya meragukan kebenaran telpon tadi. Saya cek nomor yang masuk barusan, ternyata dari Jakarta. Kemudian saya catat. Selanjutnya saya telpon Customer Service bank tersebut melalui sederet nomor cantik yang merupakan nomor layanan customer.
Saya konfirmasi apakah benar nomor tersebut adalah nomor resmi bank Y dan ada program penawaran kartu kredit lewat telpon?
Benar. Legalah saya, takutnya ini penipuan. Hari gini modus penipuan kan macam-macam yaa..
Dua hari berikutnya, ada seorang petugas yang datang ke kantor untuk mengambil berkas persyaratan. Saya tanya mas tersebut, ternyata bukan dari bank Y melainkan dari perusahaan jasa yang bekerja sama dengan bank Y untuk urusan pengambilan berkas kartu kredit.
Setelah pengisian data yang hanya beberapa menit dan saya tanda tangan dibagian akhir form isian tersebut, selesailah sudah aplikasi kartu kredit saya. Tinggal menunggu kurang lebih 2 minggu untuk proses pembuatan kartu.
Beberapa hari berikutnya ada telpon lagi dari bank Y, tapi kali dari seorang perempuan yang sama-sama mempunyai suara merdu seperti masnya tempo hari. Maksudnya untuk mengkonfirmasi pengajuan kartu kredit saya.
" Selamat pagi bu, saya dari bank Y bermaksud mengkonfirmasi. Ini data ibu telah masuk ke kantor kami, benar ya ibu telah mengajukan kartu kredit? Ada nomor telpon lain yang bisa kami hubungi? Alamat rumahnya masih sama dengan yang ini...?
Bla bla bla... Saya menjawab : ya ya ya, sambil memejamkan mata.
Pengajuan kartu kredit?? Hellooowww... Bukannya anda yang merayu-rayu saya...?? Ah, sudahlah..
Tahap berikutnya, ada seorang petugas bank telpon ke kantor saya dan ingin bertemu dengan pimpinan untuk mengkonfirmasi tentang data pegawai. Mungkin mau tanya-tanya ya, benar nggak saya kerja disini, sudah berapa lama, gaji berapa, masih punya hutang tidak dan sebagainya..
Namun tidak bertemu karena pimpinan saat itu sedang keluar kota. Beberapa hari kemudian ada yang telpon lagi, dan terulang beberapa hari berikutnya. Semuanya tidak berhasil bertemu dengan pimpinan saya karena lagi-lagi sedang tugas keluar kota.
Saat itu saya tidak berharap banyak kartu kredit tersebut akan disetujui, bahkan sejak semula tidak pernah menginginkan. Waktu itu saya menyetujui mengisi aplikasi pengajuan karena supaya percakapan dengan mas penyiar cepat selesai saja, adapun faktor lain hanya karena iseng.
Tapi seminggu kemudian atau tepatnya pertengahan bulan oktober 2016, kartu kredit itu sudah sampai di rumah saya. Agak surprise, karena artinya kartu ini bisa lolos tanpa konfirmasi dengan pimpinan saya, hehe..
Saya buka amplop yang agak tebal itu dan menemukan 2 buah kartu kredit sekaligus. Satu kartu utama dan satu lagi kartu tambahan, dengan limit kredit total untuk kedua kartu hanya 3 juta.
Dan sampai tulisan ini saya buat keduanya belum saya aktifkan. Entah merasa belum perlu atau tidak perlu sama sekali. Mungkin suatu hari nanti yaa.. :)
Kesimpulan dari tulisan ini adalah : Diterima atau tidaknya pengajuan kartu kredit kita sangat bergantung pada performa kita dalam lingkup perbankan. Meskipun saya tidak tahu secara detail faktor apa saja yang bisa mempengaruhi keputusan bank untuk menyetujui atau menolak permohonan kartu kredit kita.
Karena sebanyak-banyaknya peminat, pasti pihak bank juga tidak mau sembarangan 'meminjamkan' uangnya untuk dipergunakan oleh orang-orang yang tidak punya 'jaminan' di bank tersebut.
Mungkin seperti itu kira-kira yaa.. :)
Nah, bagaimana teman-teman mendapatkan kartu kredit kalian? Sama dengan cara diatas atau dengan cara lain? Silahkan share dikolom komentar :)
Wassalamu'alaikum.
Aku sendiri bukan pengguna kartu kredit karena merasa belum perlu. Tapi orangtuaku pakai. Lumayan kadang nebeng promonya kalau belanja, hehehe :)
Reply Deletesaya pakai juga
Reply Deleteudah beberapa kali ditawarin Mba, tapi sampe saat ini saya belum tertarik, emang lebih enak kartu debet yang banyak isinya, hihihi :D apalagi kartu debet juga bisa dipake untuk bayar belanjaan jadi tambah nyaman deh :D
Reply DeleteSaya punya kartu kredit udah lumayan lama. Dulu punya CC itu lumayan sulit. Suami saya berkali-kali ditolak aplikasi CCnya. Saya bisa dapat CC lewat provider telpon karena jadi pelanggan pasca bayar mereka. Pokoknya gak semudah sekarang. Kalau sekarang malah kita yang cape hati nolakin karena ditelponin melulu ma sales hehehe
Reply DeleteAku nggak punya mbak.. Kuno ya..biarin lah. Takut nggak bisa ngontrol...nanti malah jebol. Kasian suami yang cari uang.
Reply DeleteAku belum pakai Mbak. Belum tertarik juga. Takutnya malah jadi boros, hiksss.
Reply Delete