Monday, November 7, 2016

Mengapa saya berhijab?

Assalamu'alaikum.


bagaimana hidayah itu datang
sumber gambar : Pixabay.com



Jawabnya karena saya mendapat hidayah.

Pasti teman-teman sudah faham, bahwa yang saya maksud hidayah disini tentu bukan mbak Hidayah Sulistyowati, teman blogger saya dari komunitas Gandjel Rel Semarang ya, (eh tapi mbak Wati merasa mempunyai teman seperti saya nggak ya, kok pede banget saya mengaku-aku sebagai teman beliau? Tapi setidaknya sudah 2 kali kami bertemu loh, semoga mbak Wati masih ingat hehe).

Melainkan hidayah yang bermakna petunjuk atau pencerahan yang selama beberapa tahun silam saya nantikan.

Balik lagi kemasa lalu (duh, senang sekali saya bolak-balik kemasa lalu yah??). Sejak kecil seusia SD sebenarnya saya sudah tidak asing dengan hijab atau bahasa sederhananya kerudung, karena bulik saya sudah memakainya saat itu. Di tahun 80an. Meskipun masih sangat jarang sekali yang mengenakan. Mungkin, saat itu hanya bulik saya saja yang berhijab diantara orang sekampung.

Ketika saya SMP sepupu saya (anak bulik) juga sudah mengenakan hijab ke sekolah, dan masih jarang juga anak-anak seusia SMP yang mengenakan saat itu. Meskipun semakin hari semakin banyak yang kemudian memakainya.

Sampai saya SMA masih juga sangat jarang teman-teman yang mengenakan. Dalam satu kelas waktu itu, seingat saya belum ada yang berhijab.

Setelah saya bekerja dan menikah, keinginan untuk memakai hijab mulai datang. Timbul tenggelam seperti ombak di lautan. Kadang keinginan itu tiba-tiba meninggi dan beberapa saat kemudian mereda dengan sendirinya. Disamping masih ada keraguan, memangnya siapa saya? Kok berhijab segala?

Dengan niat memperdalam ilmu agama karena saya sadar bahwa religiusitas saya nol besar, saya dan suami sempat mengaji berdua secara privat si suatu tempat. Saya ditangani oleh seorang guru perempuan, sedangkan suami ditangani oleh seorang guru laki-laki.

Namun akhirnya suami tidak mau lagi megikuti, ada saja alasannya waktu itu. Mungkin lebih banyak terpengaruh kata-kata orang diluar, yang katanya pengajian itu beginilah atau begitulah. Meskipun menurut saya baik-baik saja. Entahlah.

Karena suami berhenti mengaji sayapun mengikuti. Ya iyalah, nggak lucu kalau saya pergi mengaji sendiri sementara suami tidak, lagipula tempatnya agak jauh dari tempat tinggal kami.

Tidak ada lagi motivasi. Kehidupan religi kami kembali datar dan biasa saja : Sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan meskipun sholat taraweh saya lakukan sendiri di rumah, sholat Ied saat hari Raya Idul Fitri, terus apa lagi ya? Lupa :)

Saat itu kami tinggal bersama orang tua saya didaerah Sukun Banyumanik. Sebenarnya ada sebuah masjid di dekat rumah tapi entah kami seperti belum tergerak mendatangi, untuk sholat atau pengajian misalnya.

Lain dengan ibu saya yang sangat aktif mengikuti pengajian atau tahlilan dan sering mengunjungi masjid. Ibu bergabung dengan para tetangga membentuk kelompok pengajian dan sering diundang untuk tahlilan bahkan sampai keluar wilayah RT. Dan ibu saya sangat antusias dengan kegiatan tersebut.

Sementara saya lebih memilih di rumah saja atau pergi dengan suami ke rumah mertua pada saat ada waktu luang atau ketika libur kerja.

Sampai terjadi titik balik di kehidupan kami. Yaitu sejak kami menempati rumah baru disebuah perumahan di daerah Gedawang Banyumanik. Allah telah menempatkan kami pada tempat yang tepat.

Suatu tempat dimana saya bertemu dengan beberapa ibu muda yang sangat religius dan berhijab. Saat itu pemakai hijab sudah bertambah banyak meskipun belum booming (?). Dan menurut saya saat itu, pemakai hijab saya anggap sebagai golongan yang mewakili para keluarga santri, tokoh agama, ustadz/ustadzah, lingkungan pesantren atau keluarga 'istimewa' sejenis. Dengan religiusitas diatas rata-rata.

Suatu tempat dimana saya mulai mengenal cara bersosialisasi yang sebenarnya, yang sebelumnya belum pernah saya rasakan dan dapatkan.

Pengajian.

Ditempat baru inilah saya pertama kali menghadiri pengajian yang sebelumnya tidak pernah. Belum pernah sama sekali. Beda dengan pengajian yang pernah saya dan suami jalani selama beberapa minggu itu ya, kalau itu kan sifatnya privat. Sementara yang ini dihadiri oleh ibu-ibu tetangga di komplek perumahan yang jumlahnya bisa sampai puluhan orang.

Pengajian inilah yang membuka mata hati saya bahwa berhijab tidak bersifat eksklusif yang hanya untuk kalangan tertentu seperti yang saya anggap selama ini. Berhijab adalah kewajiban para muslimah. Berhijab adalah perintah Allah.

Saya ingat betul dalam salah satu acara pengajian, ada satu tema yang membahas tentang hidayah. Lebih spesifik lagi, hidayah berhijab.

Ustadzah membacakan 2 surah dalam Al Qur'an yang menjadi dasar kewajiban berhijab bagi perempuan, sbb :

  • QS. An-Nuur: 31 , “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

  • QS. Al-Ahzab: 59 , “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

Diceritakan pula bahwa saat Rasulullah mengumumkan tentang turunnya ayat tersebut, maka para wanita yang mendengar segera berlarian dan mengambil apa saja yang bisa untuk menutupi aurat mereka. Subhanallah.

Saya mendengar dari Ustadzah saat itu, bahwa Allah akan memberi hidayah kepada siapapun yang Allah kehendaki. Siapa saja dan dimana saja.

Seperti yang tertera dalam Surah Al Qashash ayat 56, sebagai berikut :
  • " Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk "
Hati saya bergetar dan keinginan untuk berhijab kembali timbul, lebih kuat dari sebelumnya. Meskipun masih ada keraguan karena menganggap apakah saya pantas berhijab sedangkan saya bukan siapa-siapa.
Kehidupan religi saya sangat biasa, datar, flat dan nyaris tidak kelihatan. Kami bukan dari keluarga santri atau berbasic pendidikan pesantren. Kami juga bukan dari keluarga ustadz atau ulama.

Dan keraguan itu saya tepis perlahan-lahan. Bukankah itu suatu kewajiban? Bukankah Allah tidak pilih-pilih kepada siapa Dia menurunkah perintah dan larangan. Bukan untuk golongan orang-orang tertentu melainkan untuk semua manusia diatas bumi ini.

Pada saat itu saya merasa semakin mantap dan siap, namun keesokan harinya keraguan kembali menyergap. Kadang ingin kadang tidak, hari ini berniat besoknya malas. Mengapa? Mugkinkah karena saya belum mendapatkan hidayah untuk berhijab?

Lalu saya putuskan untuk menunggu hidayah itu datang. Sebuah hidayah yang akan menghantarkan saya untuk berhijab. Saya berdoa semoga Allah segera menurunkan hidayah tersebut kepada saya. Bukankah Allah akan menurunkan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki?

Masalahnya, saya belum mengerti dan tidak tahu sama sekali, seperti apa hidayah itu dan kapan dia datang. Apakah hidayah akan datang melalui mimpi atau pertanda lain?

Saya menunggu.

Selama berminggu-minggu kemudian. Tidak terjadi apa-apa, semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada hal istimewa yang terjadi, tidak ada tanda-tanda hidayah itu telah menghampiri.

Apakah Allah tidak memilih saya untuk mendapatkan hidayah Nya? Apakah saya bukan orang yang pantas mendapatkan hidayah tersebut? Atau saya harus lebih bersabar lagi? Menunggu giliran mungkin?

Sampai suatu ketika saya telah bosan menunggu. Saya ingin protes kepada Allah mengapa giliran saya lama sekali. Akhirnya saya berteriak dalam hati : Ya Allah, baiklah kalau Engkau tidak mau menurunkah hidayah itu padaku, tapi aku berhak mendapatkannya. Akan kuambil sendiri bagianku! Besok, aku akan berhijab!!

Yup, besoknya saya mulai berhijab. Alhamdulillah. Apakah artinya saya bisa melakukannya tanpa sebuah hidayah dari Allah?

Tidak juga.

Sebenarnya Allah telah memberikan hidayah kepada saya sejak lama. Sejak hati saya merasa gelisah dan gundah gulana. Ketika hati saya bergetar saat mendengar ayat-ayat tentang kewajiban berhijab dibacakan.

Disatu sudut hati menerima namun disudut lain menolaknya. Secara bersamaan.

Sebenarnya Allah telah memberi kode kepada saya sejak lama, tapi saya saja yang telalu bego hingga tidak peka.  Banyak pertanyaan-pertanyaan aneh yang menghalangi saya untuk menyegerakan berhijab, yang sebenarnya hanya sebagai pembenar untuk menundanya.

  • Saya masih ragu karena merasa belum pantas memakainya dengan alasan bukan dari kalangan pesantren atau keluarga ustadz/ulama.
  • Saya merasa malu jangan-jangan nanti ada orang yang menertawakan, mungkin dibilang sok alim atau hanya ikut-ikutan.
  • Saya merasa perilaku belum lurus dan benar, takutnya nanti dipertanyakan orang : misalnya, ibadah saja belum benar kok berhijab.
Ya, langkah awal ini memang sangat berat sekali, seakan kedua kaki saya terpaku ke bumi dan tidak bisa maju lagi. Tetapi Alhamdulillah karena banyak support dari lingkungan akhirnya saya bisa juga memulai langkah yang semula berat. Allahlah yang meringankan dan memudahkan.

Ada perasaan lega ketika masa paling sulit yaitu memulai pertama kali berhijab telah saya lalui. Saya senang sekali dan merasa satu beban telah saya lepaskan.

Namun beberapa minggu kemudian saya baru menyadari bahwa saat yang paling sulit bukanlah memulai memakai hijab pertama kali karena ada hal lain yang jauh lebih sulit.

Konsisten dan syar'i.

Dan sampai detik inipun saya masih terus belajar untuk berhijab secara konsisten dan syar'i. Belum sempurna sama sekali.

Memangnya apa lagi yang bisa kita lakukan di dunia ini selain belajar dan terus memperbaiki diri?

Pasti teman-teman juga punya cerita seru tentang hijab kan ya? Bagaimana?


Wassalamu'alaikum.














15 comments:

  1. Berhijab itu wajib. Setara dengan Sholat 5 waktu. Mrmang terkadang banyak teman wanita saya yang jawab belum siap ketika saya menanyakan mereka prihal berhijab hehe

    Reply Delete
  2. semoga banyak wanita berhijab bukan karena mode tetapi because muslimah

    Reply Delete
  3. Aku belum konsisten e mbak... Cuma klo pergi doank. Di rumah masih krasan pake oblong ma celana selutut☺☺ geraknya enak soale klo ngapa-ngapain. Ora usah cincing☺☺

    Reply Delete
  4. aku berhijab jujur karena keinginan hati sendiri sih...selebihnya karena peranan suami juga.uhuy template baru ya mbak

    Reply Delete
  5. Terima kasih sharingnya, indah sekali ceritanya. Setuju sekali, manusia baiknya terus belajar dan memperbaiki diri :)

    Reply Delete
  6. Saya juga masih belaar, Mbak. Semoga kita bisa istiqomah ya :)

    Reply Delete
  7. Barokallah, Mbak... Jalannya panjang ya, Mbak. Kalau saya sendiri dari kecil sekolah di madrasah, jadi sehari2 sudah akrab dg hijab. Tapi menyadari kewajiban berhijab dan tanggung jawabnya, sepertinya setelah saya kuliah, deh.

    Reply Delete
  8. Alhamdulillah, adem bacanya Mbak. Awal make dulu aku penuh pertetangan batin...

    Reply Delete
  9. saya pertama kali pake hijab saat kuliah semester 3 Mba Anjar, kemudian melepasnya pada semester 5. setelah nikah dan punya anak saya berhijab kembali, semoga kali ini gak saya lepas-lepas lagi, amin..

    Reply Delete
  10. Semangat untuk berhijab mbak
    percayalah, jalan itu sudah benar
    lanjutkan jangan pernah diragukan :)
    salam kenal ya...

    Reply Delete
  11. Waaah jadi lebih menjiwai ya mbak kalau dapat hidayah. Aku dulu cuma karena suami jauh & aku kerja, jadi jilbab untuk mencegah omongan macem2 kalau aku lagi pergi. Tapi lama2 nggak bisa lepas lagi, udah otomatis aja.

    Reply Delete
  12. Perjalanan reliji yang penuh liku dan semak belukar ya mb anjar

    Kadang hidayah datang tatkala keadaan justru sedang dalam keadaan jatuh2nya...perjalanan spiritual yg penuh perjuangan tuk tetep lurus di jalannya

    Reply Delete
  13. hidayah itulah yang jika kemudian ditulis dan dijabarkan hasilnya sedemikian panjang dan makjleb ketika selesai membacanya...bahwa hijab itu erat kaitannya dengan hidayah, contohnya ada yang berhijab karena alasan tertentu, artinya yang model begitu mah belum mendapatkan hidayah ya kan?

    Reply Delete
  14. aach tutup muka, apalah aku yang belum sepenuhnya berhijab dengan syar'i. Makasih sharingnya Mbak. Maaf nich baru nonggol.

    Reply Delete
  15. Baru ngeh. Udah dot com ternyata.Selamattttt..☺☺ Nanti saling colek yaa klo ada info review atau lomba..☺☺

    Reply Delete