Wednesday, October 19, 2016

Pilih anak atau pekerjaan : saya pilih keduanya

Assalamu'alaikum.

Teman-teman pasti sudah tahukan kalau mbak Irawati Hamid bikin Giveaway? Ikutan yuk. Saya juga mau ikutan nih. Mau berbagi juga tentang momen yang sangat berkesan dan tidak terlupakan.

Sebenarnya banyak sekali momen berkesan yang saya rasakan dalam kehidupan saya dan keluarga, namun saya akan pilih satu untuk mengikuti Giveaway mbak Ira ini. Sebuah momen yang bagi saya sangat amazing :)

********

Pixabay.com

Mundur ke belakang belasan tahun yang lalu, tepatnya pada 2001. Saat itu saya masih dalam keadaan berduka setelah kematian anak pertama saya pada 27 Januari 2001 dalam usianya yang hanya 2 hari saja. Dan saat itu saya masih bekerja di perusahaan om saya. Kemudian pada bulan Juni 2001 saya ditelpon seorang teman lama yaitu mbak Ratna yang menawarkan saya pekerjaan.

Saya sangat bersyukur dan langsung saya terima. Karena saat itu kebetulan proyek om saya sejak beberapa bulan terakhir agak menurun. Saya sebenarnya nggak enak hati karena banyak nganggurnya. Mungkin om saya mau memberhentikan merasa kasihan atau nggak tega.

Singkat cerita, setelah melalui test tertulis dan wawancara, sayapun diterima bekerja di perusahaan tempat mbak Ratna juga bekerja disana. Perlu diketahui bahwa perusahaan tempat saya bekerja ini adalah kantor cabang yang berpusat di Jakarta. Kantor cabang dipimpin oleh seorang kepala cabang tetapi segala kebijakan diatur dari kantor pusat. Saya mulai masuk kerja pada tanggal 1 Juli 2001. Alhamdulillah.

Tapi ada syaratnya yaitu saya tidak boleh hamil selama satu tahun pertama karena status saya masih karyawan baru sehingga belum mendapat hak cuti. Saya setuju. Karena sejak kematian anak pertama saya, saya belum ke dokter kandungan lagi untuk konsultasi mengenai kehamilan berikutnya.

Sebagai catatan, dulu untuk bisa hamil saya dan suami harus menjalani serangkaian terapi dan pengobatan yang melelahkan selama hampir 4 tahun lamanya. Berbagai macam pemeriksaan telah saya lakukan untuk bisa hamil. Dan tentu saja menghabiskan banyak uang. Untuk dokter spesialis saja saat itu (tahun 1998 s/d 2000) kami harus membayar 50.000 untuk sekali periksa, belum obat-obatan dan tindakan medis lain, misalnya USG, HSG dan lain sebagainya.

Nah, saya pikir untuk bisa hamil lagi saya harus juga mengikuti pengobatan seperti ketika kehamilan yang pertama. Namun saat itu saya masih merasa trauma dan memutuskan untuk istirahat dari pemeriksaan dokter dahulu.

Saya menduga sebelum periksa dan menjalani tahapan pemeriksaan seperti dulu saya belum bisa hamil lagi. Maka saya setuju untuk menyanggupi peraturan bahwa saya tidak boleh hamil selama satu tahun kedepan.

Tetapi Allah berkehendak lain. Bulan Agustus saya terlambat menstruasi dan setelah iseng saya beli tespack, hasilnya saya positif hamil. Saya yakinkah lagi dengan pemeriksaan urine di laboratorium dan hasilnya sama. Saya hamil. Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur dan bahagia sekali.

Dilain sisi saya bingung. Bukankah saya sudah menyetujui untuk tidak hamil dalam satu tahun kedepan berkenaan dengan pekerjaan baru saya?

Tidak ada pilihan lain, saya harus menceritakan ini pada mbak Ratna. Awalnya mbak Ratna juga bingung tapi kemudian mengatakan tidak apa-apa, toh 'orang Jakarta' jarang datang ke Semarang jadi nggak akan lihat. Nanti waktu mau melahirkan baru cerita pasti mereka bisa memaklumi.

Saya lega, artinya kehamilan ini tidak ada masalah, sampai suatu ketika.

Saat itu sekitar bulan Oktober 2001 dimana usia kandungan saya sudah memasuki bulan ke 4. Saya pernah mendengar bahwa usia rawan pada kandungan adalah sampai bulan ke 3. Artinya sebelum menginjak bulan ke 3 kandungan masih rawan karena belum kuat jadi harus berhati-hati dalam beraktifitas. Jadi ketika sudah memasuki bulan ke 4 bisa dikatakan sudah berada dalam zona aman, begitu saya menyimpulkan.

Ternyata dugaan itu salah besar. Suatu pagi pada hari minggu ketika bangun tidur, begitu kaki saya menginjak lantai, tiba-tiba : Ssuuuuurrrrr!! Darah segar tumpah melewati kaki saya dan berceceran di lantai.

Saya pendarahan! Saya langsung teriak kebingungan. Suami dan ibu tidak kalah bingung. Dan akhirnya ibu yang mengambil inisiatif. Ibu menyuruh saya duduk, sementara dengan diantar suami ibu mendatangi bidan Nanik yang rumahnya tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami.

Kurang lebih seperempat jam kemudian bidan Nanik sampai di rumah dan langsung menyuntik paha saya untuk menghentikan pendarahan sementara. Artinya saya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut.

Setengah jam kemudian setelah taksi datang, saya dengan diantar ibu dan suami menuju rumah sakit Panti Wilasa Citarum. Saat itu hampir belum ada rumah sakit di sekitar tempat tinggal kami yaitu Banyumanik. Ada sih rumah sakit Ungaran, tapi dengan berbagai pertimbangan saya akhirnya dibawa ke rumah sakit Panti Wilasa Citarum.

Setelah masuk IGD saya segera diperiksa oleh dokter jaga. Dokter tersebut memeriksa perut saya dengan alat pendeteksi jantung janin. Alat itu ditekan keseputar perut untuk mencari detak jantung janin saya. Agak lama dan alat itu tidak kunjung mendetek juga.

" Kok nggak ada detak jantungnya ya bu, apakah ibu sudah periksa kalau benar-benar hamil? "

Tentu saja pertanyaan itu membuat saya sewot. Usia kandungan saya sudah masuk bulan ke 4, pak dokter! Saya menjelaskan bahwa saya benar-benar hamil, sudah beberapa kali periksa ke bidan, pernah juga ke dokter dan ada bukti hasil lab.

Beberapa menit berikutnya pak dokter belum juga menemukan detak jantung janin saya. Alat itu diputar berulang-ulang ke area perut saya namun belum juga bisa mendeteksi. Saya jadi khawatir. Jangan-jangan..?? Perasaan saya jadi nggak karuan dan doa terus saya panjatkan.

Beberapa waktu kemudian terjadi pergantian shift dokter jaga. Dokter yang semula memeriksa saya digantikan oleh seorang dokter perempuan. Beliau menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kondisi saya, kemudian mulai melanjutkan mendeteksi detak jantung janin saya.

Seperti dokter pertama, alat deteksi tersebut semula diputar-putar di daerah yang sama. Kemudian alat itu mulai berpindah agak ke bawah perut bagian kanan dan kiri. Dan Alhamdulillah, berkat kesabaran bu dokter akhirnya detak jantung janin saya terdeteksi. Letaknya memang agak tersembunyi, yaitu di perut sebelah kanan agak kebawah dekat pinggul.

Kemudian bu dokter memanggil suami saya dan memperlihatkan janin saya lewat layar monitor. Janin itu sudah terbentuk lengkap dan geraknya sangat aktif. Subhanallah. Bu dokter mengatakan bahwa kondisi janin masih sehat sehingga bisa dipertahankan tapi harus bed rest selama beberapa hari. Saya menangis lega. Iya setelah sedari tadi saya tahan-tahan karena gelisah, bingung, takut, khawatir..begitu tahu janin saya baik-baik saja baru bisa nangis. Lega, bahagia, bersyukur..

Sorenya mbak Ratna membezuk saya dengan harapan semoga saya dan kandungan saya selalu sehat dan cepat masuk kerja lagi. Karena nggak mungkin juga saya bolos beberapa hari tanpa alasan yang jelas. Dan apabila pihak kantor pusat yang terkait pekerjaan dengan saya tiba-tiba telpon, maka mbak Ratna sudah tidak bisa menutup-nutupi lagi masalah ini.

Setelah lima hari opname dan kondisi saya membaik, meskipun masih sering flek, saya minta untuk pulang dan dirawat di rumah saja. Dokter mengijinkan dengan syarat saya harus benar-benar bed rest setidaknya satu minggu lagi dan selama itu tidak boleh beraktifitas dulu. Saya mengiyakan saja.

Hari jum'at saya pulang. Sorenya saya SMS mbak Ratna bahwa saya sudah pulang tapi masih harus bed rest setidaknya seminggu lagi dari sekarang. Mbak Ratna mengharapkan saya bisa masuk kerja secepatnya karena kemarin pihak management pusat sudah tahu kondisi saya yang sebenarnya. Saya hanya bisa menjawab : Inshaa Allah, semoga saya cepat sembuh.

Hari Sabtu mbak Ratna telpon saya, menyampaikan kabar apabila hari senin saya tidak masuk maka saya dianggap mengundurkan diri. Sebenarnya selama ini mbak Ratna selalu membela saya dan sering berdebat dengan orang pusat mengenai kondisi saya, dengan meyakinkan bahwa saya akan segera masuk kerja kembali.

Dan sekarang mereka memberi batas waktu sampai senin besok. Saya hanya bisa termangu. Saya sangat mengharapkan kandungan saya sehat sampai saat melahirkan nanti. Kami sekeluarga sangat menginginkan bakal bayi ini. Tetapi saya juga masih tetap ingin bekerja untuk membantu perekonomian kami. Cita-cita saya adalah ingin punya rumah sendiri setelah selama ini bersama orang tua hanya mampu menyewa.

Dan sekarang saya sedang dihadapkan pada sebuah pilihan : anak atau pekerjaan.

Mungkin saat itu saya adalah satu-satunya orang di dunia yang paling mengharapkan pertolongan Allah. Saya merasa bahwa saat itu sayalah satu-satunya orang yang paling berhak mendapatkan pertolongan Allah dibanding siapapun.

Sekaligus saya adalah orang yang paling dekat dengan Allah karena pada setiap helaan nafas selalu menyebut nama Nya dan tiada putus berdoa.

" Ya Allah saya mau keduanya. Saya mau anak saya lahir dengan selamat sekaligus tetap bekerja ".

Hari senin, yang seharusnya saya masih istirahat di rumah, saya paksakan untuk masuk kerja. Kondisi saya saat itu apabila dilihat secara fisik sangat sehat. Begitupun kandungan saya juga sehat, hanya masih ada flek-flek sedikit.

Bismillah, pagi itu saya mulai meninggalkan rumah dengan memantapkan hati bahwa saya sudah cukup kuat untuk kembali bekerja. Saya berangkat sendiri karena jadwal keberangkatan suami dan saya beda waktunya. Suami saya berangkat lebih pagi sekitar pukul 6, sementara saya sekitar pukul 7 lebih.

Tempat kerja saya berada di jalan Borobudur dekat bundaran Kalibanteng Semarang Barat, dan satu-satunya akses transportasi adalah naik bis, tapi bukan bis Damri yang besar melainkan bis kecil yang biasa melayani trayek dalam kota.

Seperti biasa pula setiap hari senin hampir semua angkot penuh, begitupun dengan bis yang saya naiki. Saya sejak naik sampai tigaperempat perjalanan harus berdiri, sambil berdoa semoga kandungan saya baik-baik saja. Dan sepertiga perjalanan sisanya baru mendapatkan tempat duduk.

Ketika sampai di kantor hal pertama yang saya lakukan adalah masuk kamar mandi dan cek kondisi kandungan. Saat itu masih ada flek-flek yang keluar, tapi saya yakin dengan rutin minum obat penguat kandungan pasti lambat laun flek itu akan berhenti.

Alhamdulillah seminggu kemudian flek itu sudah benar-benar berhenti. Saya lega karena bisa beraktifitas lagi tanpa rasa khawatir yang berlebihan, meskipun tetap harus berhati-hati dan menjaga kondisi supaya selalu sehat.

Dan ketika saatnya melahirkan hampir tiba, saya hanya mendapatkan cuti 2 bulan saja, yah lumayanlah. Saya ambil ketika usia kehamilan sudah sembilan bulan, sengaja saya mepetkan dengan hari perkiraan lahir supaya nanti sisa cuti bisa untuk merawat anak saya. Meskipun agak cemas juga, ternyata tanggal kelahiran mundur beberapa hari dari perkiraan.

Saya melahirkan pada 14 Maret 2002, dibantu bidan Nanik dan prosesnya termasuk cepat. Sekitar jam 10 pagi berangkat dan jam 11.25 anak saya lahir dengan selamat. Meskipun setelah melahirkan saya masih harus bejuang menghadapi manual plasenta . Tapi syukur alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar.

Dua bulan kemudian saya mulai bekerja kembali dan meninggalkan anak dibawah pengasuhan ibu saya :)


Ketika saya berangkat bekerja lagi untuk pertama kali setelah melahirkan, saat itu saya merasa menjadi orang yang paling berbahagia karena telah dikarunia seorang anak sekaligus masih bisa tetap bekerja :)

Sebuah pengalaman yang sangat luar biasa bukan? Saya yakin ini semua terjadi bukan hanya karena doa-doa saya saja melainkan juga doa-doa ibu saya, suami, saudara, sahabat dan orang-orang disekitar kami yang menyayangi keluarga kami.

Pasti teman-teman juga punya kan, momen berkesan dan tidak mungkin dilupakan? Ayo ceritakan :)


Buat mbak Ira semoga blognya semakin keren dan selalu menjadi inspirasi, aamiin :)


Wassalamu'alaikum.


















18 comments:

  1. Alhamdulillah ya mba, akhirnya semua bisa terlalui dgn baik yg berujung bahagia :)

    Reply Delete
  2. Alhamdulillah ending yg sesuai harapan yaa mba :) baca tulisannya bikin deg-degan mba, bener2 pengalaman yg mahal harga nya..

    Reply Delete
  3. Alhamdulillah ending yg sesuai harapan yaa mba :) baca tulisannya bikin deg-degan mba, bener2 pengalaman yg mahal harga nya..

    Reply Delete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    Reply Delete
  5. Alhamdulillah, udah terwujud harapannya ya mbak. Saya juga bekerja meski dulu waktu anak-anak balita sempat galau. Namanya juga bantuin suami, jadi dibikin enjoy aja :)

    Reply Delete
  6. kehamillannya selalu berkendala ya mbak Andjar? saya juga punya teman seperti itu. 2 kali dikiret dan harus bedrest tiap kali hamil.alhamdulilah mbak andjar bisa survive dan mendapatkan keduanya.aku mau kerja malah enggak boleh sama anakku hiks..hiks...

    Reply Delete
  7. Memang betul mbak mending pilih keduanya, karena kalau menurut saya mah saling membutuhkan karena kalau kita tidak kerja nanti anak makan apa dan kalau pilih kerja dibandingkan dengan anak nanti gak ada penyemangat.

    Reply Delete
  8. Mampir ulang ah...gpp mbak
    .. Aku juga gitu, kadang salah mencet. Disyukuri mbak..selama kerja...vani ada yang megang...klo sama kakek-neneknya kan lebih mentolo ninggal2. Anak2ku jauh dari poro simbah...


    Reply Delete
  9. Mampir ulang ah...gpp mbak
    .. Aku juga gitu, kadang salah mencet. Disyukuri mbak..selama kerja...vani ada yang megang...klo sama kakek-neneknya kan lebih mentolo ninggal2. Anak2ku jauh dari poro simbah...


    Reply Delete
  10. huwaaaaa mb anjar, aku baru tau mb ir ngadain giveaway, buru2 capcus...takut ketinggalan
    mb two thumbs up buat pilihanmu :D
    dikau wanita strong mb *salut*
    beguru ah hihi

    Reply Delete
  11. Alhamduilah ya mba sudah terlaksana keinginannya

    Regards
    Budy | Travelling Addict
    www.travellingaddict.com

    Reply Delete
  12. Alhamdulillahh ya mbak... dua hal yang mbak harapkan dan cita-citakan bisa digenggam. Subhanallah... Semangat terus mbak... (y)

    Reply Delete
  13. Waktu hamil anak kedua aku juga pendarahan mba. Syukurlah bayinya lahir normal dg selamat. Deg-degan banget baca ceritanya mba Anjar

    Reply Delete
  14. Sabar, Mbak ... semua ada hikmahnya. Apapun pilihan yang kita pilih juga ada hikmahnya ... sukses ya buat GA-nya. :)

    Reply Delete
  15. Alhamdulillah yah Mba, Vani bisa lahir selamat dan Mba Anjar masih tetap bisa bekerja :)

    Waktu melahirkan dulu saya juga baru mengambil cuti sepuluh hari sebelum HPL, tapi ternyata Wahyu sudah keburu lahir tiga hari pasca cuti (lebih cepat dari HPL)

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah Mba Anjar :*

    Reply Delete
  16. Pilihan yang memerlukan pertimbangan matang.

    MasyaAllah ... Allah hadiahkan kado yg sangat berharga dalam hidup mbak Anjar.
    Anak dan Karir ... semoga Allah limpahkan keberkahan kepada keduanya.

    Reply Delete
  17. Bacanya jadi ikutan nyesek. Mbayangin gimana kata dokter cowok itu, beuh ....

    Reply Delete
  18. Alhamdulillah, semua sudah terlewati. Semoga selalu sehat sekeluarga ya, Mbak. :)

    Reply Delete