Thursday, October 13, 2016

Matikan ponsel pada 1821 ala saya dan Vani

Assalamu'alaikum.

Hallo teman-teman, apa kabar kalian beserta keluarga hari ini? Semoga selalu sehat, bahagia dan senantiasa dalam lindungan Allah ya, aamiin :)

Pasti teman-teman setuju kan kalau yang namanya permasalahan itu akan selalu menghampiri kita? Setiap saat, setiap detik, setiap waktu? Apa saja, dengan siapa saja dan dimana saja. Dan kita harus menghadapainya kan ya?

Permasalahan yang paling sering saya hadapi adalah bertengkar dengan Vani anak saya. Seorang remaja putri berusia 14 tahun. Dari beberapa permasalahan, ada satu hal yang sudah lama terjadi dan berlarut-larut tanpa solusi.

Yaitu sholat isya. Saya dan Vani hobi sekali menunda-nunda sholat isya. Mungkin karena waktunya paling lama, yaitu semenjak adzan sekitar pukul 19.00 sampai menjelang subuh. Kurang lebih 9 jam. Maka kamipun santai. Nanti sajalah, tiduran dulu kali ya, nanggung nih acara TV lagi seru-serunya. Dan yang paling asyik, tentu saja bercengkrama bersama ponsel kesayangan.

Dan akibatnya, Vani ketiduran sementara saya masih disibukkan dengan pekerjaan menjemur pakaian atau berkutat dengan setrikaan. Setelah menyadari anak saya tertidur, sayapun berusaha membangunkan.

" Sholat isya dulu, Nok " saya guncang tubuhnya.

Tapi dia terdiam, nyenyak sekali. Saya guncang lagi, paling tangannya saja yang bergerak sedikit kemudian melanjutkan tidur lagi. Akhirnya saya menyerah. Menunggu sambil nonton TV, kadang sambil tiduran juga dan seringnya kemudian ikutan tertidur.

Tapi yang namanya tertidur sambil membawa tanggungan karena belum sholat, pasti tidak akan nyaman dan jauh dari nyenyak, secapek apapun kondisi kita.

Biasanya saya akan terbangun menjelang pukul 23.00 atau 24.00. Kemudian segera ke kamar mandi ambil air wudhu dan sholat isya dengan menahan kantuk. Biasanya sih jadi lupa rakaat dan sering melakukan sujud syahwi  :(

Setelah itu gantian membangunkan Vani. Kali ini harus memaksa karena hari sudah larut.
" Bangun nok, sholat isya dulu. Ibu mau tidur lho, nanti nggak ada yang bangunin "

Setelah beberapa saat akhirnya Vani bangun dengan sempoyongan, malas dan ngantuk. Setelah melakukan sholat yang hanya beberapa menit itu dia akan tidur lagi.

Dan peristiwa itu telah berlangsung sekian lama. Sebenarnya saya selalu meminta Vani untuk sholat isya begitu adzan berkumandang atau paling tidak sebelum tidur. Tapi begitu saya tinggal kebelakang sebentar dan ketika kembali dia sudah tertidur nyenyak.

Begitu seterusnya, sampai kadang-kadang kami sering bertengkar dan saling menyalahkan.

Masalah selanjutnya adalah 'ponsel'. Setiap saya pulang kerja Vani selalu dalam posisi memegang ponsel sambil tiduran. Sebegitu asyiknya sampai kedatangan saya tidak banyak berpengaruh pada kegiatannya itu.

Saya dan suami sampai di rumah kurang lebih pukul 18.00. Biasanya saya akan bertanya : sudah sholat maghrib belum? Dan tak jarang jawabnya adalah belum. Mulailah kami 'main drama'. Saya menyuruhnya supaya cepat sholat maghrib dan jangan main ponsel terus, sementara dia masih juga cari alasan dan biasanya jam menjadi alasan utamanya. Nanti bu, lima menit lagi. Atau, ibu sholat duluan nanti baru aku.

Ketika saya buka ponsel untuk cek ada pesan atau tidak, Vani langsung protes : ibu dari tadi main hape terus, ngelarang aku main hape tapi ibu juga sama saja. Begitu katanya.

Sayapun berkelit : Ibu jawab SMS ni loh. Atau : Ada yang minta pulsa nih, ibu kan harus kirim dulu. Alasan ada yang beli pulsa kadang sangat manjur, karena sebagai penjual pulsa kan harus melayani pembeli dengan baik ya :)

Alasan? Jadi nggak beneran dong? Ada benar dan enggaknya juga sih. Jujur, kadang denting notif baik itu SMS, BBM atau WA selalu menggelitik saya untuk buka ponsel. Kemudian membacanya. Tak sadar hingga berlama-lama.

Suatu hari, saya dan anak saya kembali bertengkar masalah ponsel. Waktu itu saya ingatkan dia untuk belajar dan jangan main ponsel terus. Dia menjawab : ibu juga sukanya main ponsel. Saya jawab : ibu kan pegang ponsel baru saja sementara kamu sudah dari tadi. Tapi kalau ibu main ponsel aku juga main, kilahnya.

Sedang asyik-asyiknya kami berdebat kusir , suami saya menyahut dengan nada tinggi : Kalian sama saja, sama-sama suka main ponsel berlama-lama!

Klakep. Kamipun terdiam seketika.

********

Beberapa hari kemudian, Vani memberi solusi. Tiba-tiba. Entah datang dari mana idenya. Menurut saya mungkin ide ini dari gurunya : " Bu, mulai sekarang kita terapkan 1821 yuk ".

" Apa itu? ", tanya saya meskipun sudah tahu jawabannya.

" Mulai pukul 18 sampai pukul 21 kita nggak boleh pegang ponsel ".

" Itu namanya gerakan 1821, dimana pada pukul 18 sampai pukul 21 kita dianjurkan untuk mematikan ponsel dan televisi, dengan harapan supaya waktu itu digunakan untuk belajar ", saya berusaha menjelaskan sejauh pengetahuan saya tentang hal itu.

Saya pernah membaca tentang gerakan ini di blog seorang teman beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama juga sih jadi nggak yakin juga apakah pengertiannya sudah benar atau belum lengkap.

" Tapi kalau televisi nggak apa dong bu, kan nggak begitu mengganggu " Vani masih protes.

" Oke, dan bagaimana kalau setiap terdengar adzan isya kita langsung sholat di masjid? Jadi nggak perlu ada acara bangunin lagi tiap tengah malam? "

Deal.

Jadilah kami mulai menutup ponsel setiap jam enam petang sampai jam sembilan malam. Dan ada beberapa keuntungan ketika ponsel kami tinggalkan, antara lain :
  • Kami punya waktu buat ngobrol sambil nonton televisi.
  • Waktu untuk belajarpun terasa makin longgar.
  • Kami punya waktu untuk tadarus, yang biasanya hanya saya lakukan setelah sholat subuh jadi bertambah setelah sholat maghrib.
  • Saat adzan isya berkumandangpun kami bisa langsung ambil air wudhu dan langsung ke masjid karena rasa malas akibat masih pegang ponsel sudah tidak ada, sehingga bisa sholat isya tepat waktu.

Dan sholat di masjid itu ada keuntungannya loh, yaitu :
  • Bisa sholat sunnah Rawatib yaitu sholat sunnah 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudah sholat isya. Biasanya kalau sholat di rumah, jujur saya hampir nggak pernah sholat sunnah.
  • Bisa mendengar surah-surah lebih panjang yang dibacakan Imam. Biasanya kalau sholat di rumah saya bacanya hanya trikul (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas) dan beberapa surah pendek lain aja, hihi.
  • Lebih khusu' karena suara Imam lebih mendominasi. Kalau sholat di rumah yang mendominasi suara televisi :(
Ternyata tanpa ponsel banyak waktu yang bisa kami pergunakan untuk hal yang lebih bermanfaat daripada sekedar tiduran dan bermalas-malasan sambil melototin sosmed atau internet.

Bukan berarti sosmed atau internetnya yang salah, mungkin karena kami yang kurang bisa membagi waktu dengan baik.

Ketika saya menulis ini, peraturan 'matikan ponsel pada 1821' memang baru terlaksana kurang lebih 3 minggu, tapi efeknya sangat terasa.  Kami jadi punya waktu lebih untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik. Alhamdulillah.

Apakah selama 3 minggu ini semua berjalan seperti rencana? Dalam arti peraturan itu benar-benar kami patuhi? Tidak selalu. Karena kami harus pula menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kadang saya harus buka ponsel untuk urusan pulsa atau harus menjawab pesan penting.

Dan Vani juga kadang harus buka laptop untuk mengerjakan tugas-tugasnya, atau buka sosmed untuk sekedar berdiskusi dengan teman-temannya menyamgkut tugas-tugas sekolah. Dan setelah selesai kami harus menutup ponsel kembali sampai waktu yang telah kami sepakati.

Tapi masalah sholat isya yang harus ke masjid, itu harga mati. Ketika hujan sekalipun, toh kami bisa berpayung. Sebab dari pengalaman kami selama ini, ketika sudah memutuskan untuk menunda maka akan menjadi berlarut-larut dan akhirnya  drama tengah malam akan terulang kembali. Pasti.

Lagi pula apa susahnya berjalan ke masjid sebentar, apalagi jarak antara rumah dan masjid hanya sekitar 30 meter. Beneran! Dekat sekali. Lalu, kemana saja kami selama ini? :(

Semoga hal baik ini akan berlangsung untuk seterusnya, bukan hanya semangat diawal kemudian padam. Aamiin. Yang penting niat baik sudah kami lakukan, tinggal mempertahankan dan berusaha konsisten.

Dan selanjutnya, kami pasti akan menghadapi masalah lain lagi dan mungkin akan bertengkar lagi. Ribut dan saling menyalahkan. Tapi kami percaya, seperti masalah-masalah sebelumnya, pasti akan selalu ada jalan keluar :)

Bagaimana dengan teman-teman, pasti pernah punya permasalahan dengan orang terdekat bukan? Apakah mematikan ponsel juga menjadi salah satu solusi?

Pixabay.com


Wassalamu'alaikum.












10 comments:

  1. Wah keren pelajaran nih buat kita2,... jangan suka menunda2 waktu sholat...

    Reply Delete
  2. Iya mbak bener programnnya. Itu juga yang membuat aku jarang nongol di dunia maya.. Membatasi interaksi dengan hape, takut raka njawab hal yang sama saat aku bilang "tabletnya taruh". Soalnya aku ngrasain sendiri.. Anakku hanya akan bilang iya atau nanti...tapi nggak beranjak klo sudah megang tablet/nge game. Di rumah maghrib mpe belajar, ngaji kelar..tv mati. Saya ndampingi raka, alya dipegang suami. Klo nggak bagi tugas, ribut...rebutan buku.1 Setelah itu jam 8an baru family time...megang hape klo alya udah siap2 tidur/sdh tidur.

    Reply Delete
  3. Hadeuhhh saya kira 1821 itu semacam metode apa gitu mba, ehh pas di baca ternyata metode gak boleh pegang ponsel :-D

    Kalau saya pribadi di rumah gak ada metode kaya gitu mba ya mungkin karena ibu saya gak bisa main ponsel dan juga saya selalu siap kalau di suruh sholat, malu kan ya udah besar masa nunggu di suruh :-D

    Reply Delete
  4. Wiih malah Vani yang keidean menerapkan ini yaa kereen. Eang anak kan niru ortu ya, ga peduli ortunya baru aja pegang ponsel karena seharian kerja, yang dia lihat itu ya itu.

    Reply Delete
  5. Tamparan keras bagai digaplok hansip. Kalau udah kena online atau nonton sinetron di TV, kadang malas2an kalau lagi dengar adzan. Padahal kan itu panggilan dari Allah. :(

    Reply Delete
  6. Keren mbak..semoga lancar seterusnya ya..di saya masih ada masalah nih sama misua yg keseringan pegang hp maen game :D

    Reply Delete
  7. Bener mbak, mending kalau di rumah hp dan gadget lainnya kita jauhkan, lebih baik ngobrol dengan pasangan atau anak, momen itu tak akan terulang ketika kita menua dan anak dewasa, bener setuju jangan sering ngobrol ama dunia maya, banyak interaksi dunia nyata aja 😊

    Reply Delete
  8. wahhh, bisa ditiru nih gerakannya. Saya pun kalo megang hp bisa lama banget Mba Anjar, dari yang semula niatnya hanya baca-baca obrolan di wa/bbm, malah keterusan online di sana, hiks :(

    Reply Delete
  9. wahhh, bisa ditiru nih gerakannya. Saya pun kalo megang hp bisa lama banget Mba Anjar, dari yang semula niatnya hanya baca-baca obrolan di wa/bbm, malah keterusan online di sana, hiks :(

    Reply Delete
  10. mb anjaarrr, pas banget. hihi
    aku juga pelan pelan lagi ngurangin mandang gadget secara intens, entah kenapa sejak rajin medsosan mata sering berkunang kunang dan gampang lelah, ujung ujungnya migrain

    Reply Delete