Thursday, September 22, 2016

Anak remaja mulai mengenal cinta? Begini tindakan kita



Assalamu’alaikum

Hallo teman-teman, bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat dan bahagia? Yess! Semoga selalu demikian ya, aamiin :)

Bagaimana reaksi kita ketika pertama kali mengetahui bahwa anak remaja kita mengalami puber pertama? Bahwa dari segala polah tingkahnya diam-diam kita tahu bahwa dia sedang jatuh cinta??

Saya terkejut meskipun sudah siap. Terkejut karena setengah percaya bahwa saat ini akhirnya datang juga. Dan sudah siap karena sejak anak saya mendapatkan haid pertama sudah menyadari bahwa cepat atau lambat pasti akan menghadapi situasi seperti ini.

Ada rasa aneh gitu, hahh anakku jatuh cintaa??

Mengapa aneh? Sebenarnya tidak juga sih, kan memang sudah waktunya yaa. Dia sudah remaja, sudah banyak perubahan pada fisik maupun mentalnya. Sudah mulai ada rasa tertarik pada lawan jenis.

(Menurut Wikipedia, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun).

Gambar : Pixabay.

Saya dan mungkin para orang tua pada umumnya, terutama ibu, pasti awalnya akan merasakan khawatir ketika menyadari bahwa anak kita telah mengenal cinta. Saya tidak mengkhususkan bahwa anak perempuan lebih harus dikhawatirkan daripada anak laki-laki, karena sebenarnya sama saja.

Namun selama ini saya hanya punya pengalaman dengan anak perempuan saja karena tidak mempunyai anak laki-laki.


Ada beberapa ciri atau perilaku tidak biasanya yang terjadi pada anak kita ketika dia mulai jatuh cinta, misalnya :
  • Mulai senang menyendiri sambil main hp dan tidak mau diganggu. Bisa jadi untuk sekedar curhat dengan teman atau sahabat tentang 'gebetan' yang ditaksirnya. Dia bisa cekikikan sendiri dan itu diluar kebiasaan. Atau justru sedang chat dengan 'gebetan' tersebut. Entah apa yang sedang mereka bicarakan :(
  • Mulai cari alasan untuk bermain selepas jam sekolah. Macam-macam alasannya, bisa mengerjakan tugas atau PR, diajak makan teman yang sedang Ultah, menemani teman karena orang tuanya sedang pergi, dan lain sebagainya. Meskipun semua alasan tersebut benar tapi semua kegiatan tersebut dipicu oleh kehadiran ' sang gebetan' tadi. Padahal biasanya selepas jam sekolah langsung pulang kemudian makan, sholat, nonton TV atau tidur.
  • Memperlihatkan sikap yang drastis, misalnya berdiam diri dikamar dalam waktu lama dan tidak mau diganggu. Atau tiba-tiba bahagia, bernyanyi-nyanyi sendiri sambil melenggak lenggok di depan cermin.
  • Mulai memperhatikan penampilan, misalnya tiba-tiba minta dibelikan lulur, masker, lipbalm atau parfum :)
  • Dan kebiasaan-kebiasaan baru lainnya.

Nah ibu mana yang nggak khawatir melihat anaknya tiba-tiba berubah sedrastis itu? Yang kita lakukan kemudian biasanya menyelidiki. Ada apa gerangan? Meskipun kita sudah tahu jawabannya tapi kadang masih juga perlu untuk meyakinkan.

Lalu hal konkret apa yang akan kita lakukan menghadapi masalah ini? Pendekatan, bicara dari hati ke hati, atau tiba-tiba menjadi terlalu melindungi? Kedengarannya kok panik ya?

Sebenarnya tergantung seperti apa anak kita. Maksudnya dia type tertutup atau terbuka? Karena menurut saya beda karakter akan beda pendekatan juga.

Seperti anak saya misalnya, karena dia bertype ekspresif (terbuka), maka saya tidak terlalu kesulitan untuk mendapatkan informasi 'apa yang sedang terjadi pada dirinya'. Karena dia akan bercerita dengan senang hati bahkan tanpa diminta.

" Ah, hari ini sangat menyebelin deh bu. Aku baper sekali tadi. Masak kata temanku 'si dia' itu udah taken sama teman sekelasku. Nyebelin nggak sih?? "

" Bu aku tadi kesel sekali, masalahnya pas mau ke kantin ketemu sama 'si dia', padahal kan aku sudah mau move on. Kalau ketemu terus bagaimana mau move on coba? "

" Dia itu jago main voli loh bu, keren nggak sih? "


Beberapa ciri anak ekspresif/terbuka :
  • Dia akan berbicara secara terbuka, tidak hanya dengan teman tapi juga dengan orang tua. Dia akan sangat serius ketika menceritakan pengalamannya. Misalnya dia tadi melihat cowok ganteng tapi sikapnya cuek.
  • Dia berharap ceritanya didengarkan dengan sungguh-sungguh. Apabila kita mendengarkan sambil lalu atau sambil mengerjakan pekerjaan lain, dia akan protes loh.
  • Dia akan meminta tanggapan atau komentar atas curhatannya. Tanggapan dan komentar yang serius, seserius ketika dia sedang menceritakan masalahnya. Biasanya tanggapan yang memihak akan membuat anak kita senang. Jangan memberi tanggapan : Ah biarin saja, cowok memang begitu. Tetapi kita beri masukan : bagaimana jika nanti bertemu lagi gantian dia dicuekin, nggak usah dilihatin. Siapa tahu cowok itu justru penasaran. Usul yang bagus bukan?
  • Dia juga akan meminta kita berbagi tentang pengalaman asmara kita dahulu. Apakah dulu kita pernah 'ditembak', atau pernah di PHP in, bahkan ditolak?
Dengan beberapa ciri tersebut, sepertinya kita akan lebih mudah untuk menyikapi type anak ekspresif ini ya. Ada banyak kesempatan bagi kita untuk menasehati saat dia minta masalahnya ditanggapi. Meskipun kadang apa yang kita nasehatkan tidak selalu diamini.


Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa tidak semua anak memiliki sifat ekspresif, ada juga kebalikannya yaitu tertutup. Tentu saja sifatnya berkebalikan ya.


Beberapa ciri anak tertutup :
  • Jarang atau sama sekali tidak pernah bercerita kepada kita tentang masalah cintanya. Kemungkinan anak type ini akan lebih suka bercerita kepada teman dekatnya.
  • Apabila  kita mencoba bertanya, dia akan menjawab tidak terjadi apa-apa. Dia akan memberi kesan bahwa dia tidak sedang menghadapi masalah apapun.
  • Dia akan lebih nyaman menyimpan masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaiknnya sendiri. Atau paling jauh akan minta bantuan teman dekatnya.
  • Hampir tidak pernah menanyakan kepada kita tentang pengalaman asmara kita dahulu.

Dengan beberapa ciri tersebut, sepertinya kita akan lebih kesulitan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak kita tersebut. Disini peran kita sebagai orang tua sangat penting untuk melakukan pendekatan secara emosional kepada anak.

Sebaiknya dalam menghadapi type anak seperti ini kita tidak boleh meremehkan atau mengganggap hal itu wajar karena dalam keseharian dia memang seperti itu. Cenderung pendiam dan tidak banyak bicara. Tetapi kalau sudah menyangkut soal asmara kita harus merubah penilaian tadi.

Karena kita butuh lebih banyak informasi pada kondisi seperti ini. Karena kita akan kesulitan membedakan apakah diamnya itu wajar atau sedang patah hati. Apakah sikap tenangnya itu kebiasaan atau dia baru saja 'jadian'. Yang harus kita lakukan adalah 'memaksa' dia berbicara tanpa ada perasaan 'terpaksa'.


Kita harus mulai melakukan pendekatan pelan-pelan. Apabila biasanya kita agak cuek dan minim komunikasi, saat inilah waktu yang tepat untuk merubah. Beri pertanyaan-pertanyaan yang wajar seputar kegiatan sekolah pada awalnya, misalnya besok pelajaran apa, gurunya siapa dan seperti apa mengajarnya.



Apabila anak kita sudah merespon dengan baik, baru kita mencoba bertanya lebih dalam lagi. Misalnya, temanmu ada yang sudah punya pacar belum? Dari pertanyaan sederhana itu bisa kita kembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang pada akhirnya kita akan mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak kita. Kita tidak boleh buta sama sekali terhadap kondisi anak remaja kita.

Sementara banyak pengaruh buruk diluar sana, mulai dari informasi yang keliru sampai pergaulan yang tak terkendali. Bahkan pengaruh paling buruk mungkin justru ada didepan mata kita. Internet. Gadget. Kolaborasi yang luar biasa tangguh. Mereka bisa menjadikan anak kita super duper hebat atau sebaliknya.


Tidak perlu saya jelaskan bagaimana pengaruh dan dampak buruk dari internet dan gadget. Meskipun banyak pengaruh baiknya juga, namun dalam masalah ini sepertinya pengaruh buruk akan lebih mendominasi, apabila kita tidak pegang kendali.


Dan kita sebagai orang tua harus melakukan serangkaian tindakan untuk mengarahkan mereka, baik terhadap anak dengan type terbuka atau tertutup supaya mereka tidak terjebak dalam masa 'jatuh cinta' yang salah.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah menasehati, memberi masukan dan mengarahkan :
  1. Nasehat paling aman, nyaman dan tanpa kesan menggurui adalah dengan mengaitkan dengan AGAMA. Sampaikan bahwa sebenarnya pacaran itu tidak diperbolehkan. Berteman dengan lawan jenis boleh tapi jangan terlalu akrab. Tidak boleh menyentuh meskipun itu hanya bercanda, karena antara pria dan wanita yang bukan mahrom dilarang bersentuhan. Apalagi tindakan lain yang lebih dari bersentuhan, berboncengan sepeda motor misalnya, itu DOSA!
  2. Naksir atau jatuh cinta boleh karena itu perasaan yang wajar dan indah. Tetapi sekali lagi perlu diingat bahwa AGAMA tidak memperbolehkan pacaran. Kalau memang serius, tunggu sampai dewasa dan mapan, baru menikah. Lihat deh bagaimana ekspresi anak kita ketika mendengar kata menikah. Dia akan membelalakkan mata sambil berkata dalam hati : NO! NOT NOW!
  3. Perasaan jatuh cinta, rindu, sakit hati bahkan patah hati harus bisa dialihkan ke hal lain yang positif. Misalnya melakukan hobi : olah raga atau berkesenian. Semakin banyak energi yang terbuang akan semakin mudah untuk melupakan perasaan-perasaan tadi.
  4. Sampaikan juga jangan menyakiti hati teman yang mungkin menyukainya, tolaklah dengan cara yang halus supaya tidak sakit hati. Tawarkan pertemanan dan persahabatan. Karena disakiti itu hal yang paling tidak diinginkan siapa saja.
  5. Kenali teman-teman dekatnya. Siapa namanya, alamat rumahnya, nomor ponselnya. Akan lebih baik lagi apabila kita juga mengenal orang tua mereka. Sehingga kita bisa langsung tahu siapa yang akan kita hubungi pertama kami jika ada masalah dengan anak kita.
  6. Libatkan anak kita dalam kelompok remaja yang ada disekitar tempat tinggal, misalnya karang taruna atau pengajian remaja. Wadah ini sangat banyak manfaatnya, antara lain :
  • Sebagai ajang silaturahim dengan teman-teman satu wilayah tempat tinggal.
  • Sebagai tempat belajar bersosialisasi, sehingga anak kita bisa mengenal dan berbaur dengan teman-temannya.
  • Ilmu dan nasehat dari sisi agama akan semakin bertambah, sehingga anak kita bisa lebih memahami mana hal baik dan buruk. Mana yang boleh dilakukan dan harus ditinggalkan.
  • Anak kita akan menerima nasehat dari ustadz atau ustadzah dengan hati lebih terbuka. Kadang meskipun kita memberi nasehat yang sama dengan yang dikatakan ustadz/ustadzah namun mereka akan lebih percaya atau lebih bisa menerima perkataan mereka dari pada kita yang menyampaikan.
Bila kita telah melakukan semua antisipasi tersebut, jangan lupa disempurnakan dengan DOA. Doa terbaik yang kita panjatkan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Supaya anak kita akan menjadi anak yang sholeh/sholekah, pribadi yang tangguh, mandiri, berguna bagi orang banyak dan selalu terhindar dari hal yang menyesatkan. Aamiin.

Terakhir, kita harus melakukan semua itu secara berulang dan terus-menerus. Jangan berhenti dan jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan. Ingat, anak adalah titipan Tuhan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan.

Baca juga : Menyikapi haid pertama pada anak.

Adakah diantara teman-teman yang mempunyai anak remaja juga? Bagaimana tindakan kalian ketika mengetahu mereka mulai jatuh cinta?


Wassalamu'alaikum.










17 comments:

  1. Wahh, Vani udah mulai "suka-sukaan" yah Mba Anjar? saya jadi teringat sama yang saya alami bertahun silam, membaca tulisan ini tiba-tiba membangkitkan kembali masa-masa "cinta monyet" itu, hihihi :D

    Reply Delete
  2. Kalo aku anak nya terbuka tertutup, perpaduan ke 2 nya

    Reply Delete
  3. Kalau saya mah malah lucu mbak kalau lihat tingkah lakunya yang seperti itu kadang pengen ketawa sih tapi gimana ya wajar dan kasihan juga kalau ditertawakan padahal saya sudah tahu kalau dia sedang jatuh cinta dan saya biarkan saja sendiri dan saya hanya mengikuti saja pacaran boleh asal jangan berlebihan.

    Reply Delete
  4. SEnang ... bersyukur menatap puterinya menginjak remaja .. mengenal cinta.

    Namun juga terkadang timbul rasa khawatir. Seorang ibu sangat penting perannya di sini. Ibu dapat curhat ke puterinya, dulu Ibu pun mengalaminya.

    Pengetahuan agama utamanya.

    Rasa cinta adalah karunia Allah yang sangat indah, maka nikmatilah sesuai dengan yang Allah kehendaki.

    Salam sayang buat puterinya mbak ...

    Reply Delete
  5. Ahai...fani jatuh cinta ni yeee...😀 menurutku agama mmng penting bgt. Fondasi. Setelahnya lingkungan entah itu klrga, teman...maupun lingkungan yang lebih besar lagi.

    Anakku akan mengalami fase itu..5 tahunan lagi mngkn mbak. Postingan ini ngingetin jaman kita ABG dulu yaa...sekarang giliran anak2 kita...

    Reply Delete
  6. Dulu aku malah ngga pernah pacaran mb anjar pas masi skul, hihi
    Terlalu polos alias kuper agaknya
    Klo ada apa apa juga sungkan mau cerita ke ortu, soalnya dididiknya beneran skolah aja, klo cinta cintaan berasa nhomong tabu, jadi klo misal ada naksir2 ya diem2 aja, hahhaahah

    Reply Delete
  7. Hmmm, jadi kepikiran, bagaimana ya kalau anak gadisku jatuh cinta. Hahaha. Perlu dicatet nih saran sarannya Mbak Anjar.

    Reply Delete
  8. waah mbak vani sudah mulai puber ya mbak?anak sekarang istilahnya macem2 ya baper, taken, he3 yg terakhir aku baru tahu. anakku kyke bentar lagi deh masuk puber.udah kelas 6.kyke dia ekspresif. aku memang mendidik anak2 biar ekspresif, baguse gitu ya mbak kyke.makane kalau pulang sekolah setelah mrk istirahat aku selalu nanya tadi di sekolah ngapain aja, gimana harimu,

    Reply Delete
  9. Sulungku cenderung diam kalo soal masalah pribadi. Tapi makin besar dia malah makin terbuka denganku utk soal2 pribadi. Itu bikin aku lega, krn aku jadi tahu keadaannya sedalam-dalamnya

    Reply Delete
  10. Adduh.. si hasna baru 2,5 tahun, baca ini jadi degdegan. wakakaka.
    suatu saat pasti bakal mengalami keterkejutan itu ya Mba..

    makasih sharingnya lho, bener banget untuk merangkul mereka pelan-pelan :)

    Reply Delete
  11. Bener banget mb Anjar, anak perempuan atau laki-laki sama aja, nggak ada beda perlakuannya. Karena dari pengalaman anakku, waktu dia naksir temen ceweknya dan malah diajak ke rumah, bikin gemes juga loh. Aku akhirnya ngajak anakku bicara dari hati ke hati. Dan agama jadi tameng buat jelasin yang sebenarnya dia juga udah tahu kok, kalo pacaran itu nggak ada dalam islam. Dan ujung2-nya malah bikin dosa.

    Reply Delete
  12. Anak saya yg paling besar baru kelas 3 SD. Tapi rasanya sdh deg-degan saya menghadapi masa itu, Mbak. Kadang2 saja dia ngobrol2 sama sepupunya yg lebih besar ttg cowok. Meskipun masih lucu2 yg dibahas... Kadang saya tegur juga dg sepupunya itu. Wah, kalau sudah lebih besar, mgkn harus lebih hati2 lagi menjaganya.

    Reply Delete
  13. Anak saya perempuan ada dua. Masih kecil-kecil. Kelak pasti saya akan mengalami hal serupa. Pendidikan agama sejak dini mungkin bisa menjadi solusinya. Orang tua juga harus update dengan perkembangan anak dan kerap memberi nasihat menyejukkan ketimbang menghakimi. :)

    Reply Delete
  14. wah penring banget nih artikel, secara aku punya dua anak yang udah abege.., bookmark, ahh...

    Reply Delete
  15. Jadi inget first love aku waktu umur 7 tahun, namanya Steven Tyler dan bapakku jealous mati-matian, hahahaha xD Eh, sampai sekarang, ding, beliau masih suka BT kalau aku ngomongin dia :p

    Reply Delete
  16. Kayaknya ciri-ciri tertutup terjadi pada adik saya deh mba.. saya sebagai kakak juga harus mengantisipasinya dengan cara mendidik dong ya agar adik saya tidak salah jalan :-)

    Reply Delete