Cerita ini tiba-tiba terlintas kembali disaat saya kebingungan untuk mengikuti Giveawaynya mbak Noorma. Saya agak kesulitan menemukan ide tema GA tersebut meskipun sebenarnya temanya sangat menarik. Yaitu tentang kebaikan yang tak selalu baik dimata orang lain. Karena dari pengalaman saya selama ini setiap kebaikan pasti akan diterima dengan baik juga ya. Ah, ini tema yang anti mainstreem deh kayaknya. Dan sayapun mulai menelisik setiap kejadian dalam kehidupan saya yang nyenggol-nyenggol dengan tema tersebut.
Pada sekitar awal tahun 2011, saya memutuskan untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah. Alasannya karena saat itu ada wacana tempat kerja dimana saya mencari nafkah akan dipindahkan ke Yogya, yang otomatis saya harus pindah juga ke Yogya kalau masih mau bekerja. Tetapi karena saya anggap tidak mungkin meninggalkan keluarga tentu saja saya akan menolak apabila diminta pindah ke Yogya. Dengan kata lain saya harus resign.
Tiba-tiba saja terlintas ide membuka warung di rumah untuk persiapan ketika saya nanti benar-benar harus keluar kerja. Dari pada nganggur di rumah mending cari kegiatan kan? Karena untuk mencari pekerjaan lagi saya sudah pesimis, dengan usia yang semakin tua dan bekal ijasah yang hanya SMA tanpa keahlian apa-apa. Perusahaan mana yang mau terima?
Warung itu menempati ruang tamu rumah saya yang hanya seukuran 4 meter persegi. Ruang tersebut saya kosongkan dari kursi-kursi kemudian saya tempatkan sebuah etalase dan mulai mengisi dengan berbagai kebutuhan sembako, seperti layaknya warung kelontong pada umumnya.
Saat itu kedua orang tua masih mengontrak rumah bersama adik sekeluarga di sebuah perumahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Lalu siapa yang jaga warung sementara saya dan suami bekerja? Saat itu
saya masih punya ART yang menjaga dan mengantar jemput Vani ke sekolah. Saya minta ART untuk sekalian jaga warung dengan menambah gaji tentu saja.
Alhamdulillahnya, ternyata tempat kerja saya tidak jadi dipindah ke Yogya karena berbagai alasan, sehingga saya bisa tetap bekerja. Dan warung kecil itupun tetap saya pertahankan, lumayan untuk tambah-tambah pemasukan, hehe.
Kemudian pada tahun 2012 ketika masa kontrakan rumah yang ditempati orang tua habis, dan adik beserta keluarganya mengontrak lagi di tempat lain, maka orang tua saya minta tinggal bersama saya. Dan ketika kemudian ART keluar, maka warung kecil kami otomatis dijaga oleh ibu dan bapak. Beliau berdua tidak merasa keberatan karena selain untuk menambah kegiatan juga bisa sering bertemu dan ngobrol dengan pembeli, sehingga tidak jenuh dan bosan di rumah.
Hingga pada suatu saat sekitar satu tahun yang lalu, tetangga saya membuka warung kelontong juga. Saya koreksi, itu bukan warung melainkan toko lebih tepatnya, karena lebih besar dan lebih lengkap. Akibatnya jelas ya, warung saya mulai sepi pembeli. Kalaupun ada hanya satu dua orang yang sudah terlanjur akrab dengan ibu.
Selama ini saya memang kurang begitu memperhatikan kelengkapan item di warung sehingga banyak barang yang belum saya jual. Sebenarnya ada sih keinginan untuk lebih melengkapi barang jualan, namun sepertinya sulit selama saya masih bekerja. Selama ini saya memang lebih mengutamakan pekerjaan sehingga berjualan di warung seakan hanya sebagai sampingan saja. Waktu saya sudah habis di perjalanan dan di tempat kerja, kadang pulang sampai rumah sudah maghrib. Sehingga saya hanya punya sedikit waktu tersisa untuk mengurus warung dan tidak bisa untuk mengembangkannya lebih besar lagi.
Dan apabila kemudian ada tetangga yang membuka warung atau toko dengan barang jualan yang super lengkap sehingga didatangi banyak pelanggan, bukan salah tetangga juga kan ya?
Akhirnya saya mengambil keputusan akan menutup warung ini dengan alasan : supaya kedua orang tua bisa beristirahat karena usia beliau berdua sudah semakin bertambah. Karena toh tetap ada saja yang bisa dikerjakan selain menunggui warung. Alasan lain tentu saja karena pembeli di warung sudah banyak berkurang. Saya rasa ini adalah keputusan yang baik, apalagi kebaikan ini saya peruntukkan bagi kedua orang tua.
Namun ketika niat ini saya utarakan kepada ibu, ternyata ibu keberatan. Alasan ibu antara lain :
Hingga pada suatu saat sekitar satu tahun yang lalu, tetangga saya membuka warung kelontong juga. Saya koreksi, itu bukan warung melainkan toko lebih tepatnya, karena lebih besar dan lebih lengkap. Akibatnya jelas ya, warung saya mulai sepi pembeli. Kalaupun ada hanya satu dua orang yang sudah terlanjur akrab dengan ibu.
|
| Ibu, diantara anak dan adik saya (Juli 2015) |
Selama ini saya memang kurang begitu memperhatikan kelengkapan item di warung sehingga banyak barang yang belum saya jual. Sebenarnya ada sih keinginan untuk lebih melengkapi barang jualan, namun sepertinya sulit selama saya masih bekerja. Selama ini saya memang lebih mengutamakan pekerjaan sehingga berjualan di warung seakan hanya sebagai sampingan saja. Waktu saya sudah habis di perjalanan dan di tempat kerja, kadang pulang sampai rumah sudah maghrib. Sehingga saya hanya punya sedikit waktu tersisa untuk mengurus warung dan tidak bisa untuk mengembangkannya lebih besar lagi.
Dan apabila kemudian ada tetangga yang membuka warung atau toko dengan barang jualan yang super lengkap sehingga didatangi banyak pelanggan, bukan salah tetangga juga kan ya?
Akhirnya saya mengambil keputusan akan menutup warung ini dengan alasan : supaya kedua orang tua bisa beristirahat karena usia beliau berdua sudah semakin bertambah. Karena toh tetap ada saja yang bisa dikerjakan selain menunggui warung. Alasan lain tentu saja karena pembeli di warung sudah banyak berkurang. Saya rasa ini adalah keputusan yang baik, apalagi kebaikan ini saya peruntukkan bagi kedua orang tua.
Namun ketika niat ini saya utarakan kepada ibu, ternyata ibu keberatan. Alasan ibu antara lain :
- Ibu merasa eman-eman (sayang) kalau warung ditutup karena meskipun pembeli sudah banyak berkurang tapi masih ada beberapa pelanggan yang datang untuk belanja.
- Njagani (berjaga-jaga) kalau warung/toko tetangga tutup, pasti pembeli akan datang ke warung kami.
- Membantu mencari tambahan penghasilan.
Dan saya tidak bisa membantah keinginan ibu, takutnya kalau ibu tersinggung. Dalam hal menghadapai orang tua saya memang sangat berhati-hati sekali. Saya akan berusaha menuruti keinginan orang tua asalkan masih masuk akal. Dan keinginan ibu untuk mempertahankan warung ini saya kira masih bisa diterima meskipun sebenarnya saya lebih suka jika ditutup saja.
Namun disisi lain, saya melihat semangat ibu masih tinggi untuk menjaga warung. Karena setiap hari minggu pagi ketika saya akan pergi ke pasar untuk kulakan, ibu selalu mengingatkan untuk membeli sembako ini itu yang sudah mulai habis. Atau kalau ada tetangga yang akan membeli sesuatu tetapi tidak tersedia, ibu pasti akan menyampaikan kepada saya supaya membeli barang tersebut karena ada yang menanyakan.
|
| Warung kecil kami. |
Akhirnya sampai sekarang warung kami masih buka, meskipun hanya melayani beberapa orang pembeli saja. Dan saya setiap minggu pagi masih tetap ke pasar untuk kulakan. Meskipun hasilnya sedikiti namun saya selalu bersyukur atas rejeki Allah ini. Satu PR terbesar saya adalah akan tetap membujuk ibu untuk menutup warung ini supaya beliau bisa lebih santai di rumah. Saya hanya tinggal mencari waktu dan moment yang tepat. Kapan waktunya dan apa momentnya sampai sekarang saya belum tahu. Mungkin kuncinya adalah komunikasi dan pendekatan yang lebih baik lagi.
Jadi untuk menyimpulakan cerita ini saya sedikit bingung nih. Sebenarnya cerita ini tentang kebaikan siapa yang tidak baik dimata siapa ya? Apakah kebaikan saya yang menginginkan orang tua beristirahat dengan cara menutup warung, tapi dimata ibu itu bukan hal yang baik sehingga ibu menolak?. Atau kebaikan ibu yang ingin tetap membantu saya menjaga warung, tapi dimata saya itu bukan hal yang sebenarnya saya harapkan? Okelah, intinya sesama orang baik tidak boleh saling menganggap tidak baik ya? Membingungkan nggak sih, semoga tidak ya hehe.
Apakah teman-teman juga pernah mempunyai cerita menarik tentang ibu atau orang tua yang agak-agak berbeda pendapat? Ceritakan juga yuk :)
Wassalamu'alaikum.
saya juga sering berbeda pendapat sama mama saya Mba Anjar, terkadang saya berpikir bahwa apa yang saya lakukan adalah hal terbaik untuk mama tapi ternyata oleh beliau dirasa nggak baik, begitu pula sebaliknya :)
Reply Deletewahh, udah lama cari-cari ide pengen ikut GA ini tapi sampe saat ini idenya belum nemu-nemu juga, semoga menjelang DL bisa ketemu ide..
sukses buat GA-nya yah Mba Anjar :)
iya mba, orangtua memang ingin memiliki keg, gak cuma diem di rumah aja. ibu mertua saya pun punya warung kecil di depan rumahnya, padahal pembelinya cuma sedikit
Reply DeleteSama dengan warung mertuaku. Dulu cuma satu-satunya, sekarang bertebaran toko yang lebih lengkap. Miris, kasihan dengan mertua.
Reply DeleteSering bgt Mbak. Kadang sampai cekcok tapi ntar baikan lagi. Saya nggak bisa kalau marahan aa ibu sehariiii aja. Biasanya sih karena pola asuh Kak Ghifa.
Reply DeleteIya Mbak, kebanyakan orang tua gak mau kalau diminta menguangi aktifitas. Rata-rata menganggap, jika aktifitas berkurang justru bingung mau ngapain kalau hanya di rumah. Bapak saya salah satunya.
Reply Deleteseorang ibu meskipun fisiknya terlihat lemah tapi semangatnya luar biasa.. berkah utk warungnya ya mbak :-)
Reply DeleteAku juga blm punya ide untuk GA ini mbak... Soal ortu, bener, klo diem mereka malah capek.. Bingung kan mau ngapain. Soalnya vanny juga dah gede, beda klo masih kecil.. Bapakku juga gitu.. Ada aja yang dikerjain. Tapi klo ibu sudah lmyn istirahat...yang penting kegiatan di masjid/pengajian. Buat bekal katanya krn mmng sudah sepuh..
Reply Deleteaku juga bingung pingin ikutan tp belum ada ide.agak susah. memang kadang orang tua kebanyakan sperti itu ya mbak..kita inginnya kebaikan buat mereka tp belum tentu mereka seide dengan kita, memang orang tua itu baiknya memang dikasih kegiatan ya mbak.
Reply DeleteIya nih mbak di tempat saya juga ada banyak sekali warung baru yang buka berdekatan dan itu sangat mengganggu sekali kalau untuk pedagang lainnya memang wajar itu namanya persaingan dalam berdagang, tapi kalau tujuannya hanya untuk membuat warung lama menjadi hancur itu saya tidak suka banget karena niatnya saja sudah tidak baik apalagi nanti ke depannya.
Reply Deletekalau orang tuaku belum kayak gitu sih mbak. lebih tepatnya ke mbah, sifatnya juga hampir sama. tapi kayak gini kayaknya emang sifat orang tua yah, "ngeman" atau mungkin juga mencari kesibukan di hari tua ketika tidak ada kerjakan
Reply Deletebersyukur mba Anjar masih punya Ibu.
Reply DeleteKebahagiaan ibunda bukan karena perolehan dari jualan,
namun lebih karena semangat beliau berinteraksi apalagi saat menyambut puterinya (mba Anjar) datang dengan membawakan belanjaan kulakan...
terlihat binar2 kebahagiaan. Betapa "mesra" ibu dan anak :)
Sungkem buat ibunda,
semoga Allah selalu limpahkan keberkahan pada beliau, juga pada mba Anjar.
Saya juga sering berbeda pendapat mba sama mama saya. Emang agak rempong sih kalau mau disamakan. Jadinya saya lebih suka mengalah asalkan bukan hal hal krusial.
Reply DeleteWah, jadi inget almarhumah nenek saya....
Reply Deletekalau disuruh berhenti berdagang di pasar, malah Beliau tidak mau...
hehehe...
Mama saya orang nya keras hati, sama seperti nenek dan eyang. ada saja yang dikerjakan, sepertinya menurun ya........... sukses juga untk warungnya :)
Reply DeleteRata-rata orangtua seperti itu, tidak ingin membebani anak-anaknya. Seperti almarhumah Ibuku mbak Anjar, hingga saat-saat terakhir hidupnya masih saja menyibukkan diri dengan berjualan :'(
Reply DeleteHm... beda pendapat sama ortu memang seriing.. *maluu*
Reply Deletesemoga tokonya makin laris biar Bapak dan Ibu tetap beraktivitas Mba,, ga bosan dirumah :)
Rezeki nggak akan kemana mbak, buktinya orang jualan buah tetep eksis meski kanan kiri sepanjang jalan tukang jualan buah. Yuuuk ikutan Giveaway di blogku juga mbak hihihi ngiklan nih aku ceritanya hehe
Reply DeleteWajar sih, Mbak beda pendapat itu mah ... sabar aja, biar makin laris warungnya ... :)
Reply DeleteJadi teringat di kampung kelahiran, ortu juga buka kios kecil untuk jualan kelontong. Dulu sering menemani beliau jaga kios kecil itu...
Reply DeleteIbunda masi semangat ya mb anjar ^_^
Reply DeleteYa walo berbeda pendapat tp mungkin ibu sudah ngerasa seneng karena ada ada kesibukan ya
Bener juga sarannya ibu mbak, ga apa pelanggan sedikit tapi mereka pelanggan loyal, keep fighting mbak
Reply DeleteMbak.. yang punya hajat bewe yaa..
Reply Deleteterima kasih sudah ikutan giveaway ku, nantikan pengumumannya, yaa... :)
Aku ketinggalan GAnya Noorma, sukses GAnya ya...beda pendapat sama orangtua Alhamdulillah dapat teratasi dengan baik hari itu juga, pengalamanku Mbak,
Reply DeleteBiasanya sih gitu mba, orang tua memang masih pengin punya kesibukan meskipun kita sebagai anaknya penginnya ortu istirahat aja.
Reply DeleteOrang tua seringnya begitu ya, Mbak. Tidak mau menganggur, mungkin bosan kalau cuma berdiam diri. Apalagi kalau orangnya memang pekerja keras.
Reply DeleteSemoga orang tua Mbak Anjar senantiasa diberi kesehatan. :)
Jangan padamkan semangat ibunda yg ingin tetap berkarya, itu sbgai hiburan dan tetap merasa berharga sebagai manusia di usia tua..
Reply DeleteBuat kegiatan ibunya mbak anjar, bukan hanya pakewuh, tapi kadangkala ortu kita itu hanya ingin tetap ada kegiatan biar tidak jenuh
Reply DeleteIya Mbak...kadang maksud kita sih pengen ortu ngga capek2 lagi yak. Cuman kadang pikiran ortu juga lain. Sukses ya Mbak GA nya.
Reply DeleteJustru malah mumet mba untuk sebagian orang tua kalau hanya berdiam diri saja. Cuma jaga waryng tentu bisa membuat mereke beraktifitas dan berinteraksi dengan customer
Reply Deleteseklaian mencari kesibukan ya mbak ibunya
Reply DeleteSayang Mba, kalau warungnya ditutup krn orangtua suka dgn kegiatan tersebut.
Reply DeleteMbak, cek pengumuman GA ku yaa
Reply Deletehttp://www.noormafitrianamzain.com/2016/06/pengumuman-giveaway-kebaikan-tak-selalu-baik-di-mata-orang-lain.html