Friday, November 20, 2015

Nasehat, beda dulu beda sekarang

Assalamu'alaikum...

Teman-teman...pernah tidak waktu kecil dulu ibu memberi nasehat seperti ini :
1. Kalau nyapu yang bersih ya nok, jangan ada sedikitpun kotoran yang masih menempel dilantai. Kalau tidak bersih nanti suaminya kopros lho... (kopros = mukanya nggak bersih, berewokan).
2. Kalau makan dihabiskan ya nduk, jangan ada sisa nasi sebutirpun. Kalau tidak habis nanti ayamnya mati lho...
3. Anak perawan jangan berdiri atau duduk di depan pintu ya, nanti tidak laku-laku...
Dan masih banyak nasehat lain yang hampir sama maksudnya dengan kalimat diatas...


Apabila teman-teman pernah mendapat nasehat seperti itu dari ibu berarti sama dengan saya. Dan saya percaya semuanya. Gimana tidak percaya ya, yang bicara kan ibu sendiri, ibu adalah panutan bagi anak-anaknya, betul..?



Pertanyaannya, apakah nasehat-nasehat tersebut bisa dibuktikan kebenarannya? Pasti tidaklah ya. Kalau difikir secara logika tidak ketemu nalar istilahnya hehe...

  • Apa hubungannya menyapu dengan penampilan suami kita kelak? Tidak ada sama sekali. Kalaupun pada akhirnya mendapat suami yang berewokan ya nggak apalah kan pilihan kita sendiri, apalagi kalau berewoknya kayak artis-artis luar negeri itu... :)

  • Lalu, apakah benar kalau makan tidak dihabiskan bisa menyebabkan ayamnya mati? Ayam siapa ya..saya bahkan tidak punya binatang piaraan sama sekali... ayam tetangga kali ... :)

  • Dan apa coba hubungannya duduk di depan pintu dengan tidak laku-laku alias sulit mendapatkan jodoh..? Bingung kan... Justru siapa tahu pas kita duduk didepan pintu ada cowok lewat kan bisa sekalian ngeceng...siapa tahu dianya naksir...eh malah dekat lho jodohnya...  ** bercanda ya...

Memang tidak logis, tidak masuk akal, aneh, janggal dan tidak bisa dibuktikan. Tetapi bukan berarti itu suatu keburukan atau bentuk ancaman, melainkan ada hal tersembunyai yang penuh arti. Coba kita perhatikan lagi dibalik nasehat-nasehat tersebut.

1. Ibu mengajarkan kita untuk menyapu atau menjaga kebersihan rumah dengan sebaik-baiknya. Rumah harus bersih supaya enak dilihat dan membuat nyaman penghuninya.
2. Ibu mengajarkan kita untuk menghargai makanan supaya jangan ada yang tersia-sia dan dibuang.
3. Ibu mengajarkan kita supaya sopan dengan melarang duduk di depan pintu, supaya kalau ada orang lewat tidak terhalang atau kalau ada tamu bisa masuk dengan leluasa.

Hanya saja caranya yang mungkin keliru. Mungkin ibu mendapatkan nasehat ini secara turun-temurun dengan cara penyampaian yang sama seperti ketika ibu menyampaikan kepada kita. Supaya anaknya menuruti seperti ketika ibu dulu juga menuruti dan menjalankan nasehat yang sama dari nenek

Dan kenapa kita percaya begitu saja dengan nasehat-nasehat tersebut? Eh memang percaya ya..? Kalau saya sih iya, seratus persen percaya... Ini sebabnya :
1. Hampir semua teman sepermainan juga mendapatkan nasehat yang sama dari ibu mereka sehingga hal tersebut sudah layaknya kebenaran saja.
2. Masyarakat disekitar saya waktu itu bisa menerima hal tersebut karena tidak ada yang mempertentangkan atau mendebatnya.
3.  Bentuk kepatuhan seorang anak terhadap orang tua. Apalagi nasehat tersebut sudah diucapkan secara turun-temurun entah sejak jaman kapan.


Tetapi yang pasti untuk saat ini nasehat-nasehat tersebut tentu saja tidak bisa saya terapkan kepada anak saya karena :
  • Saya pasti akan langsung ditertawakan. Saat ini bahkan anak TK pun sudah sangat akrab dengan gadget apalagi anak SMP, sehingga segala informasi yang paling aktualpun sudah bisa diakses dengan mudah. Dan anak-anak pasti tahu kalau nasehat seperti itu 'sangat lucu dan tidak masuk akal'.
  • Perbedaan cara pandang dan cara berfikir. Saat ini anak-anak sudah tidak menerima lagi informasi yang bernilai 'katanya' melainkan harus nyata, real dan bisa dibuktikan kebenarannya.
  • Saya rasa secara agamapun pasti melarang penyampaian nasehat seperti itu karena mengandung unsur mempercayai sesuatu yang sudah pasti tidak benar dan tidak bisa dibuktikan.

Lalu nasehat seperti apa yang seharusnya kita sampaikan kepada anak-anak kita supaya dipatuhi..? Yang pasti tergantung juga pada tingkat usia atau kemampuan anak masing-masing.

Berikut ini nasehat yang saya berikan kepada anak saya (berusia tigabelas tahun), yang berhubungan dengan membersihkan tempat tidur :

1. Masuk akal.
Kamar tidur pastinya kotor setelah dipakai seharian, baik untuk tidur atau berkegiatan lain seperti mengerjakan peer sehingga ada buku, tas dan laptop yang ikut naik.

2. Menjelaskan manfaatnya.
Tempat tidur yang kotor harus dibersihkan setiap paginya. Kalau tempat tidur sudah bersih dan rapi pasti tidur akan nyaman dan nyenyak. ** Tentu saja dengan diselingi perdebatan-perdebatan kecil seperti biasa...

3. Memberitahu akibat  kalau tidak dilaksanakan.
Begitu juga sebaliknya, kalau tempat tidur tidak dibersihkan pasti banyak kotoran yang menempel, sehingga kalau dipakai tidur pasti tidak nyaman dan bisa menimbulkan gatal-gatal pada tubuh yang bisa berakibat tidur gelisah dan tidak nyenyak. ** Tetep...ada perdebatan... :)

Alhamdulillah sekarang setiap pagi Vani sudah membersihkan tempat tidur sendiri tanpa disuruh lagi, meskipun terus terang ada bantuan suami waktu memberikan penjelasan untuk menguatkan alasan saya... :)

Terasa sekali bedanya ya teman, antara nasehat jaman dulu dan sekarang. Kalau dulu saya akan langsung patuhi tanpa perlawanan apapun, tapi sekarang akan ada perdebatan panjang sebelum menemukan kesepakatan..hihihi...

Lalu bagaimana dengan pengalaman teman-teman? Adakah perbedaannya..??

Wassalamu'alaikum...
















50 comments:

  1. saya tersinggung lo mab, soalnya saya orangnya brewokan nih :)

    Reply Delete
    Replies
    1. Hehehe...berewokan ngga apa kok mas Huda, yang penting keluarga nyaman... :)

      Delete
  2. Haha bener banget mba.. Emang sih sebagian orang tua zaman sekarang masih ada yg menasehati anak2nya dengan mitos2

    Reply Delete
  3. Ha..ha, iya mbak. Br banget. Klo anak jama sekarang dinasehati gitu, paling jawabnya.... " kok bisa..? Hubungane opo sapu sama kumis...?" klo kita dulu yang nanya gitu...paling cuma dijawab " hush, rasah ngeyel"...

    Reply Delete
    Replies
    1. Hehe..kayaknya kita punya pengalaman yang sama ya mbak Sulis... :)

      Delete
  4. nyimah deh... beda kemantapan hati orang dulu sama generasi sekarang

    Reply Delete
  5. Kita senasib... hahaha dpt peringatan spt itu...

    Klo skr hrs "diluruskan" menyampaikn nasehat dg cara yg betul, fair, tidak bermakna "tersembunyi", justru kalo anak2 meresponnya dg pertanyaan, brrti apa yg disampaikn masuk ke dlm pikirannya .. inilah saat tepat utk sharing nasihat, anakpun senang, wawasan mjd terbuka luas.

    Siiip mba .. tulisannya mantabz, runut, uptodate : jempol :)

    Reply Delete
    Replies
    1. Senangnya punya teman senasib...hehe..

      Kita harus mengapresiasi sikap kritis generasi skrang ya mbak Lady... :)

      Delete
    2. tapi beneran da, saudara saya msh nggantungin peniti, gunting kecil di bajunya saat hamil, buat pengusir "roh jahat" katanya ...haahahah.

      Ini yg bahaya jika dibiarkan dpt terjerumus ke dlm kesyirikan.

      Delete
    3. Betul mbak saya kadang salting menghadapi hal spt ini..kaya makan buah simalakama ya.. :)

      Delete
    4. Betul mbak saya kadang salting menghadapi hal spt ini..kaya makan buah simalakama ya.. :)

      Delete
  6. kalau sekarang dikasih nasihat kaya git suka diambil tujuannya apa ya

    Reply Delete
    Replies
    1. Iya mbak Lid padahal udah nggak relevan lagi kan ya..

      Delete
  7. Sekarang itu semuanya harus pake logika ya mba hehe

    Reply Delete
    Replies
    1. benar mbak Lis kalau tidak bisa-bisa diketawain anak kita ya... :)

      Delete
  8. Menasehati anak sekarang, kita harus siap menjawabi serentetan pertanyaan kritis yang berkepanjangan mbak.

    Reply Delete
    Replies
    1. betul mbak Rie..harus adu argumentasi dulu ya... :)

      Delete
  9. sama lah dulu juga sering dibilangin gini, tapi bukan ibuku yang bilang, orang-orang
    ibuku bilang juga tapi gak sama embel-embelnya itu, jadi kalo nyapu yang bersih, udah gitu aja :D

    Reply Delete
    Replies
    1. nasehat yang realistis ya mbak Dona...tanpa embel-embel : kalau ngga gini ntar bisa gitu...hehe..

      Delete
  10. Yang paling sering itu jangan duduk di dket pintu nanti nontot jodo atau susah jodo mungkin memang maksudnya karena bisa menghalangi orang ya mba/ :)
    itu nulis peer yg bener emang gitu mba? dari dlu saya mah suka nulisnya PR :)

    Reply Delete
    Replies
    1. itu tulisan peer modifikasi lho mas... :)
      * jangan ditiru ya...

      Delete
    2. haha, kirain emang ejaan yang bener.
      mba ini ternyata hobi juga modifikasi ya, kaya abegeh :)

      Delete
  11. nasehat org tua kadang memang menggunakan kiasan yg tak masuk akal, tapi maksudnya pastinya baik ya...

    Reply Delete
    Replies
    1. betul mbak Santi, semua orang tua pasti menginginkan anaknya melakukan hal-hal yang baik ya... :)

      Delete
  12. saya paling suka menyapu dengan bersih, gak ada remahan samasekali. Hehee, fokusnya ke sini. Kalau untuk nasehat, yaaa...semua orangtua memberikan nasehat yang baik ya. Namun masuk akal.

    Reply Delete
    Replies
    1. maksud orang tua sebenarnya baik ya mbak Astin... :)

      Delete
  13. dulu2 sekarag2 ... :)
    masa mw disamakan dg yg dulu ,... :D

    Reply Delete
    Replies
    1. sedikit membandingkan ga apa dong ya..ambil baiknya aja..betul ga mas.. :)

      Delete
  14. Di Jawa banyak mitos dan petuah2 kayak gitu mbak, kadang nggak masuk akal tapi saya tetap mematuhi apa yang dilarang dan dianjurkan Ibu saya, karena setelah dipraktekan banyak benarnya.

    Reply Delete
    Replies
    1. Iya mbak Prima memang itu tergantung dari kemantapan hati saja ya.. :)

      Delete
  15. aku kalo dulu suka dinasehatin aneh2 suka tanya2 kenapa.. kenapa .. dan kenapa..
    eh malah akunya dimarahin hihihii

    Reply Delete
    Replies
    1. Itu artinya jangan tanya kenapa tapi lakukan saja mbak...hihihi...

      Delete
  16. Nenek saya juga suka nasehatin kayak gitu, mba.Ada satu nasehat dari nenek, katanya anak gadis kalo lagi masak ga boleh sambil nyanyi nanti dapet suami yang udah tua (om om/semacam kakek). Hahah kalo di pikir-pikir ga masuk akal yak. Aku ambil positifnya aja, mungkin dilarang nyanyi sambil masak karna takut ntar muncrat trus air liur pindahke makanannya, kan ga enak. *Eh hahah

    Reply Delete
    Replies
    1. waduh malah baru denger tuh hihi.. padahal di sinetron2 masaknya sambil nyanyi dan joget2 =D

      Delete
  17. masakannya jadi tambah vitamin dong ya mbak..hihihi..

    Reply Delete
  18. Kalo anak sekarang dinasehati kayak gitu, bisa balas jawab, gak apa brewokan kan malah keren, Ma *aihhh

    Reply Delete
    Replies
    1. iya..kalau udah bosan brewoknya tinggal dicukur ya mbak...masalah selesai... :)

      Delete
  19. Nasihat ibunya sama dgn ortu saya, Mba.
    Iya ya menasihati anak skrg kudu yg logis.

    Reply Delete
    Replies
    1. kalau nggak logis pasti diprotes ya mbak Pipit... :)

      Delete
  20. yaa..mungkin di balik nasehat ibu itu baik ya mbak tapi caranya yang perlu dirubah :D

    btw, di tempat saya, yang mengenai pintu, kalo makannya di dekat pintu nanti kalo sudah tunangan maka akan putus dengan tunangannya (istilahnya seserahan tunangan dikembalikan/ bahasa simpelnya gak jadi nikah) :D

    Reply Delete
    Replies
    1. Iya mbak Reni, hal spt itu memang kayaknya anehnya ya tapi kita juga harus menghormati pendapat orang tua krn maksudnya baik... :)

      Delete
    2. Iya mbak Reni, hal spt itu memang kayaknya anehnya ya tapi kita juga harus menghormati pendapat orang tua krn maksudnya baik... :)

      Delete
  21. kebanyakan mitos ya mbak...tp sebenarnya baik juga..

    Reply Delete
    Replies
    1. Iya mbak Ningrum maksud orang tua selalu baik pada anaknya ya.. :)

      Delete