Tutorial Dasar Membuat Tulisan yang Enak Dibaca
Menulis dengan nyaman dibaca bukan berarti harus memakai kata-kata yang rumit atau gaya bahasa yang sangat formal. Tulisan yang enak dibaca biasanya terasa mengalir, mudah dipahami, dan mampu membawa pembaca mengikuti gagasan dari awal sampai akhir. Hal ini berlaku untuk artikel blog, catatan pengalaman, ulasan, maupun tulisan singkat di media sosial.
Banyak penulis pemula terlalu fokus pada jumlah kata, pemilihan istilah, atau penggunaan kata kunci. Padahal, pembaca pertama-tama membutuhkan informasi yang jelas. Jika kalimat terlalu panjang, paragraf terlalu padat, dan ide berpindah tanpa penjelasan, pembaca dapat kehilangan minat sebelum menemukan inti tulisan.
Kerapian struktur juga berpengaruh besar terhadap pengalaman membaca. Judul yang sesuai, subjudul yang membantu, paragraf pendek, serta perpindahan gagasan yang halus akan membuat tulisan tampak lebih ringan. Unsur-unsur ini dapat dipelajari secara bertahap melalui kebiasaan menulis dan menyunting.
Bagi blogger pemula, proses tersebut bisa dimulai dari hal sederhana. Catatan mengenai pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi tulisan menarik jika disusun dengan sudut pandang yang jelas. Di blog Anjar Sundari, pengalaman pribadi dan tips blogging disajikan sebagai contoh bahwa tulisan informatif dapat tetap terasa dekat dan santai.
Tentukan gagasan utama sebelum menulis
Langkah pertama adalah menentukan satu gagasan utama. Gagasan ini menjadi arah tulisan sehingga setiap paragraf memiliki hubungan dengan topik yang dibahas. Misalnya, jika ingin menulis tentang cara merawat tanaman di kamar, pembahasan dapat berfokus pada pemilihan tanaman, pencahayaan, penyiraman, dan perawatan rutin.
Gagasan utama sebaiknya ditulis dalam satu kalimat sederhana. Kalimat tersebut membantu membatasi pembahasan agar tulisan tidak melebar ke banyak hal. Tanpa batas yang jelas, penulis sering memasukkan informasi tambahan yang sebenarnya kurang berkaitan. Akibatnya, artikel menjadi panjang, tetapi inti pesannya samar.
Setelah memiliki gagasan utama, buatlah susunan kecil berisi beberapa poin. Susunan ini tidak perlu seperti kerangka akademis. Cukup tuliskan pembuka, pembahasan inti, contoh, dan penutup. Dengan cara ini, penulis dapat mulai menulis tanpa terlalu sering berhenti untuk memikirkan arah paragraf berikutnya.
Sudut pandang juga perlu dipilih sejak awal. Tulisan pengalaman dapat menggunakan gaya orang pertama dengan kata “saya” atau “aku”, sedangkan artikel panduan bisa memakai gaya yang lebih netral. Konsistensi sudut pandang membuat suara penulis terasa lebih jelas dan tulisan menjadi lebih alami.
Gunakan kalimat yang jelas dan sederhana
Kalimat yang baik menyampaikan satu gagasan utama secara langsung. Hindari memasukkan terlalu banyak informasi dalam satu kalimat. Jika sebuah kalimat memiliki beberapa anak kalimat, banyak keterangan, dan sejumlah istilah teknis, pecahlah menjadi dua atau tiga kalimat yang lebih ringan.
Contohnya, kalimat “Setelah mempertimbangkan berbagai hal yang berkaitan dengan waktu, biaya, dan kemampuan yang saya miliki, akhirnya saya memutuskan untuk mulai membuat blog secara perlahan” dapat diringkas menjadi “Saya mempertimbangkan waktu, biaya, dan kemampuan sebelum membuat blog. Akhirnya, saya memulainya secara perlahan.” Maknanya tetap sama, tetapi alurnya lebih mudah diikuti.
Pilih kata yang umum selama kata tersebut sudah cukup mewakili maksud. Istilah khusus boleh digunakan jika memang dibutuhkan, tetapi berikan penjelasan singkat pada kemunculan pertama. Pembaca tidak selalu memiliki latar belakang yang sama dengan penulis, sehingga bahasa yang terlalu teknis dapat menciptakan jarak.
Kalimat aktif biasanya terasa lebih hidup. “Saya menulis draf pada malam hari” terdengar lebih langsung daripada “Draf ditulis oleh saya pada malam hari.” Kalimat pasif tetap berguna dalam situasi tertentu, tetapi penggunaan yang terlalu sering dapat membuat tulisan terasa kaku.
Perhatikan juga kata sambung antarkalimat. Kata seperti “kemudian”, “setelah itu”, “karena”, “namun”, dan “oleh sebab itu” membantu pembaca memahami hubungan antaride. Gunakan secukupnya agar tulisan tetap lancar dan tidak terdengar dibuat-buat.
Atur paragraf dan ritme bacaan
Paragraf adalah ruang bagi satu kelompok gagasan. Dalam artikel digital, paragraf pendek umumnya lebih nyaman dibaca karena mata tidak berhadapan dengan blok teks yang terlalu padat. Dua sampai lima kalimat dapat menjadi patokan awal, meskipun panjang paragraf tetap perlu disesuaikan dengan isi.
Paragraf pembuka sebaiknya segera menunjukkan alasan topik tersebut penting atau menarik. Hindari pembukaan yang terlalu jauh dari pembahasan. Setelah itu, setiap paragraf perlu memiliki kalimat utama, penjelasan, dan jika memungkinkan contoh yang membantu pembaca memahami maksudnya.
Ritme bacaan akan terasa lebih baik jika panjang kalimat dibuat bervariasi. Beberapa kalimat pendek dapat memberi penekanan. Kalimat yang sedikit lebih panjang dapat dipakai untuk menjelaskan hubungan sebab dan akibat. Pola yang sama berulang-ulang membuat tulisan monoton.
| Unsur tulisan | Kurang nyaman dibaca | Lebih nyaman dibaca |
|---|---|---|
| Panjang kalimat | Terlalu panjang dengan banyak gagasan | Satu gagasan utama dalam satu kalimat |
| Bentuk paragraf | Blok teks besar tanpa jeda | Paragraf pendek dengan fokus jelas |
| Pilihan kata | Banyak istilah sulit tanpa penjelasan | Kata umum dan istilah yang diterangkan |
| Struktur | Ide berpindah secara tiba-tiba | Gagasan tersusun dari awal hingga akhir |
| Penekanan | Semua kalimat dibuat sama kuat | Kalimat penting diberi posisi yang tepat |
Subjudul juga membantu pembaca menemukan bagian yang dibutuhkan. Buat subjudul yang informatif, bukan sekadar menarik perhatian. Subjudul seperti “Memilih waktu yang tepat” lebih membantu daripada “Beberapa hal penting” karena pembaca langsung mengetahui isi bagian tersebut.
Gunakan daftar bernomor atau daftar berpoin ketika harus menjelaskan beberapa langkah, ciri, atau pilihan. Bentuk ini membuat informasi lebih mudah dipindai. Namun, jangan mengubah semua uraian menjadi daftar karena penjelasan mendalam tetap membutuhkan paragraf yang utuh.
Bangun gaya bahasa yang terasa alami
Tulisan yang enak dibaca memiliki suara yang konsisten. Gaya bahasa dapat bersifat santai, hangat, informatif, atau reflektif, sesuai tujuan dan karakter penulis. Blog pribadi biasanya lebih dekat jika penulis berani menyampaikan pengalaman, pengamatan, dan pendapat dengan cara yang jujur.
Kedekatan tidak berarti menulis tanpa aturan. Bahasa percakapan tetap perlu memiliki kalimat yang jelas dan ejaan yang cukup rapi. Kata sapaan seperti “kamu” atau “teman-teman” boleh digunakan jika sesuai dengan pembaca yang dituju. Pilih bentuk sapaan tersebut secara konsisten dari awal sampai akhir.
Contoh nyata dapat membuat tulisan terasa lebih hidup. Saat menjelaskan tips menulis, ceritakan kesalahan yang pernah dilakukan, perubahan yang dicoba, atau hasil yang dirasakan. Pengalaman pertama membuat website, misalnya, dapat menjadi bahan tulisan yang mudah dihubungkan dengan pembaca pemula. Cerita semacam itu dapat dibaca melalui pengalaman membuat website.
Hindari penggunaan kata sifat yang berlebihan. Pernyataan seperti “cara yang sangat luar biasa, amat mudah, dan benar-benar paling efektif” terdengar kurang meyakinkan jika tidak disertai bukti. Lebih baik jelaskan manfaatnya secara spesifik, misalnya “cara ini membantu saya menyusun draf lebih cepat karena ide sudah dikelompokkan sejak awal.”
Perumpamaan dan humor dapat digunakan untuk memperkuat gaya, tetapi pastikan keduanya mudah dipahami. Terlalu banyak ungkapan kiasan bisa mengaburkan pesan. Gaya yang sederhana, jujur, dan sesuai kepribadian biasanya lebih tahan lama daripada gaya yang dipaksakan mengikuti tren.
Lakukan penyuntingan sebelum menerbitkan
Draf pertama hampir selalu masih memiliki bagian yang perlu diperbaiki. Setelah selesai menulis, beri jeda sebelum membaca ulang. Jeda tersebut membuat penulis dapat melihat kalimat dengan sudut pandang yang lebih segar, bukan sekadar mengingat maksud yang ada di kepala.
Bacalah tulisan secara perlahan. Periksa apakah pembuka sudah mengarahkan pembaca, apakah setiap subjudul sesuai dengan isinya, dan apakah penutup memberikan kesan yang cukup. Tandai bagian yang terasa berulang, terlalu panjang, atau tiba-tiba berpindah topik.
Penyuntingan dapat dilakukan dalam beberapa putaran. Pada putaran pertama, fokuslah pada alur dan kelengkapan informasi. Putaran berikutnya dapat digunakan untuk memeriksa pilihan kata, ejaan, tanda baca, serta konsistensi istilah. Memeriksa semuanya sekaligus sering membuat penulis melewatkan masalah penting dalam struktur.
Kebiasaan sederhana saat menyunting
- Baca tulisan dengan suara pelan untuk menemukan kalimat yang tersendat.
- Hapus kata pengisi yang tidak menambah makna pada kalimat.
- Pecah paragraf panjang jika memuat lebih dari satu gagasan.
- Periksa kembali judul, subjudul, dan kalimat pembuka agar selaras.
- Ganti istilah sulit dengan kata yang lebih umum jika maknanya tetap sama.
- Pastikan setiap tautan, contoh, dan data benar-benar berkaitan dengan topik.
- Simpan draf lama agar perubahan tulisan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
Selain membaca sendiri, penulis dapat memakai bantuan aplikasi pemeriksa ejaan atau meminta orang lain membaca draf. Masukan dari pembaca sering menunjukkan bagian yang dianggap membingungkan, padahal terasa jelas bagi penulisnya. Gunakan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi, lalu tetap sesuaikan hasil akhir dengan tujuan tulisan.
Menulis dengan nyaman dibaca merupakan keterampilan yang berkembang melalui latihan. Mulailah dengan satu gagasan, susun paragraf secara teratur, gunakan kalimat yang jelas, lalu sisihkan waktu untuk menyunting. Semakin sering proses ini dilakukan, semakin mudah menemukan gaya bahasa yang terasa alami dan sesuai dengan karakter penulis.